Lokasi Cagar Budaya Makam pahlawan nasional Nani Wartabone. (foto: ay1/RG)
Lokasi Cagar Budaya Makam pahlawan nasional Nani Wartabone. (foto: ay1/RG)

Makam Tanpa Penerangan, Atap Bocor Disana-sini 

RadarGorontalo.com – ADA TIGA (3) moment, orang banyak mendatangi tempat ini, di setiap tahunnya. Yakni, di tanggal 23 Januari, 17 Agustus, dan di Hari Pahlawan 10 November yang jatuh tepat pada hari ini, Kamis (10/11). Namun sayang, 13 tahun lamanya, Taman Makam Pahlawan (TMP) Nani Wartabone ini, minim perawatan.

Ayi Ilham, Radar Gorontalo

SEPERTI pada tahun-tahun sebelumnya, peringatan Hari Pahlawan 10 November, direncanakan akan turut digelar oleh pemerintah provinsi (Pemprov) Gorontalo, bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan masyarakat luas, di lokasi Taman Makam Pahlawan (TMP) Nani Wartabone, yang berlokasi di kecamatan Suwawa, kabupaten Bone Bolango. Dalam bentuk upacara, yang akan dipimpin langsung oleh Pelaksana Tugas (PLT) Gubernur Gorontalo Prof. Zudan Arif Fakrulloh, yang dilanjutkan dengan ziarah ke makam Nani Wartabone, berikut kunjungan ke museum atau cagar budaya dari pahlawan nasional yang berasal dari provinsi Gorontalo itu, yang lokasinya masih dalam satu kawasan, atau tidak lain merupakan rumah peninggalan dari almarhum Nani Wartabone sendiri.

Namun sayang, dari kondisi terakhir dilokasi TMP dan cagar budaya Nani Wartabone itu, hingga rabu (9/11) malam, sungguh memprihatinkan. Dimana, di makam Nani Wartabone sendiri, sama sekali tidak diterangi lampu pada malam hari. Bahkan, hal itu sudah lama terjadi. Tak heran, hal memiriskan pernah terjadi. Dimana, ada kasus asusila atau dugaan pelecehan seksual yang pernah ditangani pihak kepolisian setempat, yang awalnya pelaku dan korban perempuan, sempat bercengkrama tak jauh dari makam Nani Wartabone, karena tidak diterangi lampu. Mestinya, karena sudah menjadi bagian dari cagar budaya di kawasan rumah peninggalan almarhum, pemerintah provinsi, harus turut memperhatikan hal-hal seperti itu, meski dianggap sekecil apa pun, seperti perlunya penerangan lampu pada makam Nani Wartabone.

Kondisi terkini lainnya, pada cagar budaya rumah peninggalan Nani Wartabone itu, adalah pada rumah itu sendiri. Dimana, sejumlah platfon atap rumah, terlihat rusak dan bocor disana sini. Sehingga, bila hujan, air menetes tersebar di lantai rumah tersebut.

Anak almarhum, Hi. Yos Wartabone, yang kebetulan rabu (9/11), berada di rumah tersebut, kepada RADAR Gorontalo, menuturkan bahwa, sebenarnya atap asli dari rumah tersebut, terbuat dari seng-seng peninggalan zaman Belanda, yang telah teruji tidak pernah mengalami kebocoran, sejak rumah tersebut dibangun dan ditempati oleh almarhum beserta keluarganya, pada tahun 1930. “Namun beberapa tahun lalu, ada proyek dari pemerintah provinsi bernilai kalau tidak salah sekitar Rp 190 juta, untuk renovasi atau perbaikan rumah ini, termasuk mengganti atap-atapnya. Tapi sayang, dalam beberapa waktu lama, sudah mengalami kebocoran, jika hujan turun,” ungkap Yos.

Rumah peninggalan Nani Wartabone, yang dijadikan cagar budaya oleh pemerintah. (foto: ay1/RG)
Rumah peninggalan Nani Wartabone, yang dijadikan cagar budaya oleh pemerintah. (foto: ay1/RG)

DUALISME KEWENANGAN

Sementara itu, pada bagian ruang tamu dari rumah peninggalan Nani Wartabone tersebut, selain pajangan akan beragam dokumentasi perjuangan Nani Wartabone, nampak terlihat seperangkat kursi, yang sudah cukup dimakan usia. “Kursi-kursi ini, merupakan bantuan dari pemerintah provinsi di zaman Gubernur Fadel Muhammad pada tahun 2003 lalu, yang pemberiannya disampaikan langsung oleh pak Fadel saat itu. Dengan tujuan, pejabat pemerintahan, atau orang-orang berkunjung ke rumah ini, bisa sekedar melepas lelah, duduk di seperangkat kursi ini,” tutur Yos Wartabone.

Ditanya, sejak 2003 atau 13 tahun lalu, bantuan dari pemerintah provinsi lainnya, akan perawatan cagar budaya, selain seperangkat kursi tersebut, Yos menyebutkan nyaris tak pernah ada. “Yang kami (keluarga almarhum) harapkan itu, adalah, karena telah ditetapkan sebagai cagar budaya, maka pembenahan dan pemeliharaannya secara total dan rutin, dengan tidak menghilangkan ornamen-ornamen asli dan bersejarah, dari bangunan rumah ini.” pinta Yos lagi.

Pada sisi lain, terkait bantuan rutin dari pemerintah, Yos menambahkan, pernah dalam beberapa kesempatan, pihaknya dikunjungi langsung oleh 2 pihak kementerian terkait dari pusat, yakni Departemen Sosial dan Departemen Pendidikan, dalam kesempatan berbeda. “Dimana, secara aturan, TMP-TMP di seluruh Indonesia, bisa langsung dikelola oleh pemerintah pusat. Namun karena status TMP dan Cagar Budaya Nani Wartabone ini, belum jelas kewenangannya, apakah dibawah naungan Departemen Sosial atau Departemen Pendidikan, maka mereka (pusat), belum menetapkan diri, untuk mengambil alih pengelolaanya. Karena hal itu, terkait pengucuran anggaran dari pusat, yang tidak boleh ada dualisme pengelolaannya. Olehnya, hal ini kami harapkan, dapat ditindaklanjuti oleh Pemprov Gorontalo,” harap Yos Wartabone. (*/RG)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.