oleh

2.560 Ha Lahan Mangrove di Pohuwato Dijarah

ilustrasi (by anwar)
ilustrasi (by anwar)

 
Tanjung Panjang Tinggal Sejarah
Ilyaz, Radar Gorontalo.

Duluuuu skali, Cagar Alam Tanjung Panjang di Kabupaten Pohuwato, adalah salah satu lahan mangrove terbesar di Provinsi Gorontalo, dengan total luasan mencapai 3.100 hektar. Sayang, nasibnya kini bak manusia yang tengah sekarat. Ribuan hektar mangrove yang dulunya menjadi tempat bermukimnya berbagai satwa dilindungi salah satunya Burung Maleo, terus dibabat.

Instruksi Bupati Pohuwato Nomor 522/PEM/1057/X/2010 tentang Pelarangan Pembukaan Lahan Tambak di Kawasan Hutan Mangrove pun, tak mampu membendung aksi penjarahan, yang membuat mangrove di kawasan itu tinggal 540 hektar saja. Nasib tanjung panjang, bakal tinggal sejarah yang menjadi dongeng pengantar tidur anak cucu kelak.

Kini hutan mangrove yang pernah mencapai masa jayanya dulu, 82 persen atau 2.560 hektar sudah dialih fungsikan menjadi tambak udang dan bandeng. Ada dalih yang mengatakan, tambak itu adalah milik rakyat kecil, yang hanya bekerja mencari sesuap nasi. Padahal, sebenarnya tambak itu adalah milik pengusaha-pengusaha besar, yang meraup untung dengan cara merusak alam.

Mereka tak peduli, kalau tempat bermukimnya Burung Maleo yang notabene adalah hewan endemik yang biasanya berkembang biak di kawasan itu punah, yang penting pundi-pundi rekening tetap terisi. Kenapa mereka bisa seberani itu, padahal hampir semua institusi, baik pemerintah daerah maupun penegak hukum menebar ancaman serius bagi perusak mangrove? rupanya, ada oknum yang senantiasa melindungi yang menjadi dalang sebenarnya dari aksi penjarahan.

 

Kondisi cagar alam tanjung panjang saat ini.
Kondisi cagar alam tanjung panjang saat ini.

 

Belum lama ini, upaya penyelamatan kawasan mangroove di Pohuwato dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari DPRD, Dinas Kehutanan, Polisi dan TNI. Namun itu berbuntut panjang. Pasalnya pemilik lahan tambak dan penggarapnya merasa sangat dirugikan dengan dibuka paksanyapintu air tambak oleh tim gabungan, yang membuat petani tambak merugi hingga ratusan juta rupiah.

Menurut Mohamad Irfan, aksi tim gabungan yang membuka pintu air tambak udang dan bandeng di kawasan Cagar Alam Tanjung Panjang, dinilai tidak manusiawi. Padahal menurutnya, aksi yang seperti itu tidak termasuk dalam rencana yang diatur sebelum turun ke TKP. Petani tambak siap diproses hukum atas kelalaiannya membuat tambak dikawasan cagar alam, tapi pengrusak yakni tim gabungan juga harus mengganti kerugian finansial akibat dibukanya . “Mengapa tak menunggu panen dulu, baru ditertibkan kasihan,” sesal Irfan yang juga merupakan salah satu tim pakar DPRD Pohuwato ini.
Kepada RADAR, tokoh yang akrab disapa Daeng Irfan ini mengungkap ada alasan keberanian petani tambak melanjutkan aktivitas di lahan mangroove yang dilindungi tersebut. Menurutnya ada sejumlah oknum nakal baik dari Pemerintah Daerah hingga aparat yang memback-up aktivitas mereka. Mereka berani karena sering menyetorkan “upeti” kepada oknum-oknum yang bahkan pihak yang bahkan transaksinya disaksikan langsung oleh pemerintah desa.

Petani tambak katanya hanya korban jual beli lahan mangroove. “Mereka (Petani tambak, red) memiliki bukti akta jual beli lahan, dengan kisaran harga 2,5 juta tiap hektarnya,” terang Daeng Irfan terang-terangan kepada belasan awak media.

Menurut Ketua DPRD Nasir Giasi, langkah preventif tersebut sengaja dilakukan untuk membuat efek jera petani tambak yang diduga kuat menjadi penyumbang terbesar dalam pengrusakan Mangroove di Pohuwato. Sebelumnya, sejumlah tim gabungan juga mendapati sebuah excavator yang diduga milik salah satu tokoh masyarakat ini sedang menghancurkan lahan mangroove.

Namun, saat tim gabungan mencoba tangkap tangan pengrusakan tersebut, 1 unit excavator tersebut sudah tak berada di TKP. “Kemungkinan besar excavator dan operatornya sudah melarikan diri karena sudah ada yang membocorkan aksi tim gabungan nanti,” terang politisi Golkar ini.

tim gabungan saat berkunjung ke tanjung panjang
tim gabungan saat berkunjung ke tanjung panjang

 

Hal senada juga disampaikan Ketua Fraksi Partai Golkar, Iwan Adam. Kepada sejumlah awak media, Iwan menuturkan tim gabungan akan kembali mengunjungi TKP dengan aksi yang rencananya lebih vulgar. Bukan apa-apa, namun aksi ini dinilai merupakan salah satu cara terbaik dalam menghentikan alih fungsi mangroove di Pohuwato yang makin hari makin mengkhawatirkan. “Apalagi di sejumlah pondok ditemukan dua jenis senjata api rakitan, yang diduga keras menjadi senjata untuk melawan petugas,” terangnya.

Kiprah tim gabungan dalam melepas pintu tambak mendapat dukungan penuh dari KPMIP. Ketua Pengurus Besar (PB) KPMIP Rozlan Tawaa menyampaikan dukungan terhadap upaya penyelamatan lahan Mangroove di cagar alam Tanjung Panjang yang dilakukan oleh tim gabungan. Menurut Rozlan, seharusnya upaya seperti ini dilakukan sejak lama, bukan nanti sekarang. Urusan untung rugi yang akan dituntut oleh petani tambak, dinilai Rozlan sebagai upaya untuk mengaburkan tindakan tegas dari tim gabungan.

Saat ini, banyak sekali dampak yang dirasakan masyarakat khususnya nelayan akibat pengrusakan mangroove. Salah satunya menurun drastis hasil tangkapan ikan, akibat rusaknya mangroove yang merupakan habitat alami pembiakan ikan laut. Ini belum termasuk, mulai tembusnya air laut ke sumber air bersih seperti sumur milik masyarakat di daerah pesisir Kecamatan Randangan. “Tak hanya itu, upaya ini juga harus dibarengi dengan pengungkapan sejumlah oknum yang merupakan dalang dibelakang layar pengrusakan mangroove di Pohuwato,” tandas Rozlan. (**)


Jangan Lewatkan

Komentar