Advertisements
Hari Ini

    Wartawan Abal-Abal Peras Aparat Desa

    Image

    RadarGorontalo.com – Rekaman suara berdurasi 4 menit beredar luas di masyarakat. Dalam rekaman tersebut, pemuda FR alias Fad meminta uang dengan nominal 50 juta untuk kompensasi tunda berita terhadap kasus penyalahgunaan ADD yang melibatkan aparat Desa Dudepo, Kecamatan Pattilanggio, Kabupaten Pohuwato.

    Dugaan penyalahgunaan anggaran desa oleh pemerintah desa dan diancam bakal diterbitkan pada salah satu media. Hanya saja, agar berita tersebut tidak terbit, maka pemerintah desa diminta untuk menyerahkan anggaran sebesar Rp 150 juta, sehingga yang bersangkutan tidak akan menerbitkan beritanya. Tawaran demi tawaran pun terjadi hingga akhirnya masuk pada anggaran Rp 50 juta. Beruntung pemerintah desa tidak menyerahkan uang tersebut kepada yang bersangkutan karena sudah merasa curiga akan hal tersebut. Pada pembicaraan itu pula ada beberapa nama wartawan yang disebutkan oleh Fad, dimana para wartawan tersebut meminta dana puluhan dan bahkan ratusan juta agar pemberitaan bisa diamankan dan tidak ditayangkan maupun diterbitkan.

    Salah seorang wartawan yang disebutkan namanya pada pembicaraan tersebut, Jhojo Rumampuk menegaskan, dirinya sama sekali tidak pernah meminta-minta anggaran kepada pemerintah desa untuk melakukan Pending Berita. Apalagi dengan niat mengancam aparat desa maupun siapapun itu. “Kami akan memproses hal ini dan akan kami laporan kepada aparat penegak hukum. Saya beserta beberapa rekan lainnya yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Pohuwato sudah mengantongi rekaman yang bersangkutan dan ini akan menjadi barang bukti kami dihadapan penegak hukum,” tegasnya.

    Ditambahkannya lagi, pada intinya, hal yang dilakukan oleh yang bersangkutan adalah murni perbuatan pribadi dan bukanlah suatu karya jurnalis, sehingganya jika ada yang merasa khususnya pemerintah desa dengan modus yang sama, silahkan dilaporkan ke pihak yang berwajib. “Setidaknya saya mengatakan hal demikian agar hal ini tidak akan terjadi lagi, dan merupakan suatu peringatan atau efek jera buat para oknum-oknum yang selalu mengatasnamakan perusahaan media,” tutup Jhojo. (RG-55)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Tinggalkan Balasan