Advertisements
Hari Ini
    • Home
    • Gorontalo
    • Di Gorontalo, Masih Banyak Dokter Tanpa Izin Praktek

    Di Gorontalo, Masih Banyak Dokter Tanpa Izin Praktek

    Image
    ilustrasi (Anwar/RG)
    ilustrasi (Anwar/RG)

    RadarGorontalo.com – Kendati hanya sebagai syarat administrasi, tapi Surat Izin Praktek (SIP) merupakan dokumen penting yang hukumnya wajib dikantongi dokter. Ironisnya, dari inspeksi mendadak Dinas Kesehatan Kota, ditemukan banyak dokter dan tenaga medis lainnya, yang belum mengantongi dokumen tersebut. Bahkan diantaranya berstatus dokter spesialis. Padahal, SIP diakui sebagai bentuk pertanggung jawaban tenaga medis terhadap pasiennya.

    Dikatakan Kadis Kesehatan dr. Hj, Nur Albar Sp. PD, Finasim, hasil sidak selama dua hari pekan kemarin, pihaknya menemukan begitu banyak oknum petugas medis, mulai dari dokter spesialis, dokter umum, bidan hingga perawat yang belum mengantongi SIP. Dan itu didapati hampir disemua fasilitas kesehatan, seperti RS Siti Khadijah, RS Multazam, RS Bunda, dan RS Islam. bahkan, dua rumah sakit dibawah naungan Pemkot pun, yakni RS Otanaha dan RS Aloei Saboe juga didapati hal serupa. Padahal kewajiban untuk mengantongi SIP bagi tenaga medis, jelas-jelas diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No 512/Menkes/PER/IV/2007, tentang izin praktik dan pelaksanaan praktik kedokteran.

    Sidak itu sendiri kata Nur Albar, merupakan tindak lanjut dari sosialisasi yang sudah digelar pekan sebelumnya. Dalam sosialisasi itu, pihaknya sudah menginformasikan kepada seluruh tenaga medis, untuk mengurus SIP bagi yang belum memiliki atau memperpanjangnya bila sudah habis masa berlaku. Rupanya kata Nur Albar, responnya kurang. Itu terbukti, banyaknya ditemukan yang tak mengantongi SIP atau registrasi ulang SIP yang sudah mati. “Alasan yang diungkapkan masing-masing pengelola rumah sakit, bahwa petugas medis mereka masih dalam proses melakukan pengurusan persyaratan surat ijin itu. Dan dari hasil temuan kami, ada masa aktifnya sudah mati sejak tahun 2007,” jelas Nur Albar.

    Tak hanya itu, pihaknya juga menemukan adanya petugas medis yang praktek di lebih dari tiga tempat. Padahal, sesuai aturan baik itu Permenkes, perda atau perwako, satu petugas medis hanya bisa praktek di tiga tempat saja. Sayang, Nur Albar enggan membeber berapa banyak dokter, atau perawat yang didapati melakukan penggaran itu. “Berapa jumlah pelanggaran yang berhasil kami temukan selam dua hari melakukan sidak, itu belum bisa kami ungkapkan ke publik. Karena masih akan dikolaborasikan dengan data yang dimiliki pihak Dinas Sosial Kota Gorontalo,” tutur Nur Albar.

    Sementara itu, dikutip dari berbagai sumber, ketiadaan SIP juga berpengaruh pada administrasi, klaim ke BPJS. Banyak, klaim yang akhirnya ditolak, hanya gara-gara dokter yang menangani pasien tak punya SIP. Bahkan, dokter yang tidak mengantongi dokumen itu, tak boleh melakukan praktek di manapun. (rg-62)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Tinggalkan Balasan