Advertisements

Banjir Berlalu Semangat Belajar Kembali Terpacu

Image
Mengajar sambil bermain, membawa suasana ceria bagi para siswa SD di pelosok. (foto : 1000 guru)
Mengajar sambil bermain, membawa suasana ceria bagi para siswa SD di pelosok. (foto : 1000 guru)

Cerita ‘1000 Guru’ di Pelosok Paguyaman

RadarGorontalo.com - Orang-orang muda ini, merupakan bagian dari komunitas 1000 guru regional Gorontalo. Mereka datang dari berbagai latar belakang profesi, namun punya kegemaran yang sama yakni traveling and teaching (TNT). Artinya, berpetualangan sekaligus berbagi ilmu dengan anak-anak di wilayah pelosok Gorontalo. Kali ini, komunitas 1000 guru menyasar Desa Rejonegoro Kecamatan Paguyaman, yang akhir 2016 silam diterjang banjir bandang, hingga merendam desa itu selama beberapa hari. Para siswa tak bisa sekolah untuk beberapa lama, karena sekolahnya terendam banjir belum lagi seragam sekolah mereka rusak karena terendam lumpur.

Penulis : Millan Amrullah

TNT kali ini digelar di SDN 17 Paguyaman yang terletak di Desa Rejonegoro. Ini adalah TNT seri keempat (#4), yang merupakan lanjutan dari kegiatan teaching and giving (TNG) yang dilaksanakan 19 November 2016 di SDN 1 Bilato. Seperti diketahui, kedua wilayah itu merupakan titik terparah yang terkena bencana banjir di 2016 silam. TNT #4 ini, diikuti sedikitnya 31 orang yang terdiri 17 orang relawan, ditambah 14 anggota tim.

Kegiatan digelar 27 Januari silam. Kala itu, untuk mencapai lokasi relawan harus menumpang mobil milik Basarnas. Medan yang cukup berat, membuat waktu tempuh menjadi lama, komunitas 1000 guru akhirnya mencapai lokasi nanti pukul 22.30 Wita. Masih terlihat sisa-sisa banjir. Maklum, kala banjir menerjang Desa Rejonegoro, tinggi air sampai dada orang dewasa. Bahkan, di beberapa titik, air sampai melewati atap rumah. di SDN 17 Paguayaman tempat aksi ini digelar pun, masih terlihat bekas genangan air dan lumpur, yang belum sempat dibersihkan. Kendati begitu, seluruh relawan tetap antisias.

Besoknya, hari Sabtu, kegiatan dimulai dengan upacara pengibaran bendera. Ada yang menarik disini. Entah kenapa, upacara dilakukan tanpa ada pemandunya, bahkan untuk sesaat pengibaran bendera tak diiringi lagu kebangsaan. Menyadari itu, seluruh relawan bersama menyanyikan lagu Indonesia Raya diikuti oleh adik-adik siswa di sekolah itu. Singkat cerita, proses teaching atau mengajar pun dimulai. Diawali dengan pengenalan apa itu 1000 guru. Proses belajar mengajar, berlngsung cukup asyik. Itu bisa dilihat dari antusiasme para siswa. Tak cuma itu, untuk mengobat trauma mereka akan banjir, fun games pun digeber sekalian. Akhir kegiatan, para siswa diminta menuliskan cita-cita mereka, untuk digantungkan di pohon impian. Sejumlah bantuan yang sudah disiapkan sebelumnya pun, berupa seragam sekolah mulai dibagikan.

Teacing selesai, tibalah saat yang ditunggu yakni traveling, di air terjun Desa Bontula Kecamatan Asparaga. Sayang, perjalanan tidak begitu mulus. Cuaca yang tadinya begitu cerah, tiba-tiba diguyur hujan deras, hingga membuat tim mengurungkan niat menuju lokasi, karena debit air sungai yang mulai naik. Kantor Desa Bontula pun jadi tempat untuk menginap. Tapi ini ada hikmahnya, karena malam harinya seluruh relawan berkumpul, berbagi cerita dan pengalaman masing-masing. Mereka yang datang dari berbagai latar belakang itupun, akhirnya makin akrab.

Pagi harinya, cuaca kembali cerah. Tapi satu lagi kendala, truk basarnas tak bisa masuk ke lokasi, karena medannya yang makin berat. Akhirnya, seluruh peserta memutuskan untuk berjalan kaki selama 1,5 jam. Sempat singgah di camp, namun akhirnya seluruh tim tiba di Air Terjun Bontula. Keindahan alamnya, seakan menghapus rasa lelah perjalanan. Waktu kegiatan ini memang singkat, namun bagi relawan yang bergabung di komunitas 1000 guru ada kepuasan sendiri. “mungkin yang kami beri hanya secuil inspirasi, tapi kami 1000 guru Gorontalo selalu siap berbagi menginspirasi anak negeri, salam 5 jari,” (**/rg)

TINGGALKAN KOMENTAR

Satu tanggapan untuk “Banjir Berlalu Semangat Belajar Kembali Terpacu”

Tinggalkan Balasan