Advertisements
  • Home
  • Advetorial
  • BNNK Bonebol Sosialisasi Program Rehabilitasi dan Pasca Rehabilitasi

BNNK Bonebol Sosialisasi Program Rehabilitasi dan Pasca Rehabilitasi

Image
Kepala BNNP
Kepala BNNP Gorontalo, BrigJendPol. Drs. Oneng Soebroto, SH, MH membuka sosialisasi program rehabilitasi dan pasca rehabilitasi di Maqna Hotel, Kamis (13/2)

RadarGorontalo.com – Tingginya angka penyalahgunaan narkotika menjadi keprihatinan semua pihak, terutama Badan Nasional Narkotika Kabupaten (BNNK) Bone Bolango.

Sehingga lembaga yang dipercaya menangani persoalan narkotika ini terus melakukan berbagai langkah antisipasi dan pencegahan. Salah satunya adalah memberikan sosialisasi program rehabilitasi dan pasca rehabilitasi yang dilaksanakan di Hotel Maqna Gorontalo, Kamis (13/2).

Sosialisasi yang dihadiri Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Gorontalo, BrigJendPol. Drs. Oneng Soebroto, SH, MH, Kepala BNNK Bone Bolango, Abd. Haris Pakaya, S.Pd dan Wakil Ketua DPD Granat Gorontalo, Arfan Dalanggo, SP, M.Si, tersebut diikuti 25 peserta yang berasal dari sejumlah organisasi dan LSM yang ada di Kabupaten Bone Bolango.

Kepala BNNP Gorontalo, Brigjend Pol Drs Oneng Soebroto, dalam sambutannya menyampaikan bahwa penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, psikotropika dan bahan adiktif serta prekursor narkotika (Narkoba) adalah masalah kompleks dan mendunia yang perlu ditangani bersama.

Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan setiap hari, 30-50 orang meninggal dunia karena kasus penyalahgunaan narkoba, kata Brigjen Oneng. “Rehabilitasi adalah program penyelamatan anak bangsa yang merupakan amanat Undang-UndangNomor 35 tahun 2009.

Olehnya itu BNN wajib melaksanakan rehabilitasi penyalahguna dan korban penyalahgunaan narkoba disamping melakukan pencegahan dan penegakan hukum atau aksi represif di bidang pemberantasan,” kata Kepala BNNP Gorontalo.

Jenderal bintang satu ini berharap agar peserta sosialisasi turut meyebarluaskan informasi dan wawasan kepada masyarakat tentang program rehabilitasi dan pascarehabilitasi. “Diantara warga mungkin ada yang bingung atau takut (melaporkan diri).

Kita sosialisasikan biar sadar dan melaporkan diri ke puskesmas, rumah sakit, klinik, dan lembaga lain yang telah ditunjuk pemerintah melaksanakan fungsi rehabilitasi, tandasnya.

Sementara itu Wakil Ketua I DPD Granat Provinsi Gorontalo, Arfan Dalanggo, dalam meterinya menguraikan, seseorang terjerat narkoba karena faktor keluarga, lingkungan dan individu.

Peserta sosialisasi yang berasal dari sejumlah organisasi dan LSM yang ada di Kabupaten Bone Bolango.

“Jumlah penduduk Gorontalo 1.168.190. Separuhnyaberusia 15-44 tahun potensial menjadi target peredaran narkoba. Penyalahgunaan lem adalah yang paling marak terjadi, sehingga hal ini patut diwaspadai, terangnya.

Hal inipun dibenarkan Kepala BNNK Bone Bolango, Abd Haris Pakaya. menurutnya, klien yang direhabilitasi di BNNK Bone Bolango paling banyak berasal dari kalangan pecandu lem.

“Mereka didominasi anak-anak dan remaja. Hampir semua sekolah di Bone Bolango siswanya ada yang terjerat penyalahgunaan lem dan obat batuk. “Kepada orang tua siswa, Haris Pakaya menyampaikan bahwa pengawasan orang tua dan guru sangat membantu dalam penanganan narkoba ini”, tukasnya.

Sementara itu Kepala Bidang Rehabilitasi BNNP Gorontalo, Dra Maria Jeanne Tanzil, Apt. dalam materinya menyatakan, rehabilitasi masih menjadi konsep yangkontroversial di tengah masyarakat karena banyak yang belum memahami apa itu rehabilitasi.

“Masalah penyalahguna narkoba seperti gunung es. Tidak terlihat jika tidak dicari atau ditangkap. Untuk itu perlu kesadaran masyarakat. Dia menambahkan rehabilitasi diperlukan untuk mengubah perilaku pecandu dari negatif menjadi positif, mal adaptif menjadi adaptif.

Adiksi atau kecanduan adalah penyakit yang mengubah struktur dan fungsi otak. Berlangsung lama dan dapat kambuh. “Rehabilitasi bertujuan menyelamatkan seorang warga negara dengan harapan orang yang bersangkutan bisa kembali pulih, produktif dan bisa berfungsi sosial.

Maria Jeanne Tanzil juga menyampaikan bahwa kendala program rehabilitasi saat ini adanya stigmatisasi pecandu dan mantan pecandu. “Pecandu tidak dilaporkan oleh keluarga atau sekolah karena dianggap aib.

Sementara mantan pecandu dikucilkan dan diabaikan. Akibatnya pecandu makin sulit diselamatkan danmantan pecandu frustrasi lalu kembali menjadi pemakai.

Jadi dibutuhkan partisipasi keluarga, sekolah dan masyarakat dalam mendukung proses penyembuhan seorang pecandu atau mantan pecandu,” tandasnya.

Sementara itu Kepala Bidang Rehabilitasi BNNK Bone Bolango, Devi Ariani Kum, SE, MM, dalam laporannya menyatakan, maksud dan tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan masyarakat luas khususnya organisasi dan LSM untuk terciptanya perubahan dan tumbuhnya karakter serta perilaku anti penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, serta menumbuhkan kesadaran diri untuk menjauhi dari pengaruh buruk narkoba. (adv)

TINGGALKAN KOMENTAR

Tinggalkan Balasan