Advertisements
  • Home
  • Pendidikan
  • Cerita Haru KKN Inernasional Mahasiswa UMGO : Mengajar Anak-anak Yang Tak Punya Identitas Warga Negara

Cerita Haru KKN Inernasional Mahasiswa UMGO : Mengajar Anak-anak Yang Tak Punya Identitas Warga Negara

Image

rgol.id – Kuliah Kerja Nyata (KKN) sejatinya tidak hanya untuk memenuhi Sistem Kredit Semester (SKS) atau sebagai syarat kelulusan semata.

Melainkan menjadi ajang bagi perguruan tinggi dan mahasiswa untuk dekat dengan masyarakat, terlebih di daerah terpencil, guna mengenal berbagai persoalan di dalamnya, hingga membantu menemukan solusi atas persoalan yang ada dengan memaksimalkan beragam potensi daerah.

Hal ini turut dirasakan bagi Mahasiswa asal Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO) yang berkesempatan mengikuti Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKNDik) Internasional Merdeka Belanja Kampus Merdeka (MBKM) Perguruan Tinggi Muhammadiyah/ `Aisyiyah (PTMA) ke Malaysia. Setelah keberangkatan dari Gorontalo, tim KKN Universitas Muhammadiyah Gorontalo pada tanggal 12 Maret 2023 resmi di berangkatkan dari Indonesia menuju Negeri Jiran Malaysia.

Seluruh mahasiswa dari berbagai universitas yang lolos seleksi dari PTMA hingga majelis dikti litbang PP Muhammadiyah pun tersebut telah di kumpulkan. Dari sebelum diterjunkannya mahasiswa untuk KKN, setiap mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Mereka diterjunkan di berbagai tempat sangar belajar (SB).

Para mahasiswa tidak digabung sepenuhnnya dengan mahasiswa satu universitas, melainkan dengan mahasiswa dari universitas lain yang ikut serta dalam KKN Internasional tersebut. Di sinilah tantangan bagi para mahasiswa menjalankan program kerja tanpa melibatkan teman dari satu universitas, namun melibatkan mahasiswa dari universitas lain sebagai gantinya.

Berdasarkan wawancara yang kami lakukan terhadap salah satu mahasiswa terpilih pada KKN Inernasional tersebut, Rahmat Dunggio Mahasiwa Prodi Sastra Arab Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Muhammadiyah Gorontalo menceritakan kondisi selama melakukan pengabdian di negeri jiran tersebut, di antaranya adalah melakukan pembimbingan pada anak-anak WNI yang lahir di Malaysia namun tidak dapat masuk ke sekolah formal, di karenakan anak-anak tersebut tidak memiliki indentitas warga negara.
Dalam wawancara tersebut Rahmat menceritakan bagaimana pengalaman haru-nya selama mengajar anak-anak WNI

“Anak-anak Indonesia yg berada di negeri tersebut sangat semangat dalam belajar, dimana mereka sangat ingin belajar Tentang Indonesia secara keseluruhan. Selain itu mereka tetap semangat meski proses pembelajaran dilakukan sangat luar biasa padat” ujarnya

Adapun di antara program yang mereka lakukan adalah melatih Baca tulis, hitung, merangkai kata dan kalimat, khususnya pada kelas anak-anak. Selain itu pada kelas remaja mereka mengembangankan Kemampuan para remaja melalui pengenalan Akademik IPA, Matematika, bahasa Indonesia, arab, inggris, Pendidikan kewarganegaraan.

“Secara hukum, anak-anak tersebut stateless (tidak punya warga negara). Orang tua mereka menikah sah, tapi anaknya dianggap tidak sah. Berkat adanya pemutihan, sebagian besar dari mereka bisa mendapatkan kewarganegaraan. Lalu, bagaimana pendidikan anak-anak TKI? Pada dasarnya, anak-anak bisa bersekolah dengan sistem pendidikan Malaysia. Akan tetapi, banyak di antaranya tidak mampu membayar biaya yang ditetapkan lembaga pendidikan setempat.” jelasnya.

Masih banyak lagi pengalaman bersama anak-anak WNI tersebut, rahmat menyampaikan pada saat telah selesainya proses KKN, anak-anak tersebut sempat menangis dan menyampaikan pesan kepada para mahasiswa KKN untuk dapat kembali kesana dan membawakan mereka gambar-gambar perhitungan (perkalian,tambah,pengurangan), pancasila dan gambar lainnya yang bisa mereka jadikan sebagai bahan pembelajaran di sana.

“karena di sana tidak ada yang menjual gambar-gambar seperti itu, dan Insya Allah kalau diberikan rezeki untuk berkesempatan ke sana kami akan mengupayakan untuk merealisasikan permintaan mereka” tutupnya.(HMS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Tinggalkan Balasan