• Home
  • rgol.id
  • Ini Sejarah Pasar Senggol, Jakati Dari Walikota Medy Untuk Anak Muda

Ini Sejarah Pasar Senggol, Jakati Dari Walikota Medy Untuk Anak Muda

Image

RGOL.ID GORONTALO – Ini sejarah Pasar Senggol yang dimulai dari tahun 1998. Memang jauh sebelum itu pasar senggol ditangani oleh Organisasi yang namanya Gakari.

Setiap tahun terjadi keributan di Pasar Senggol, semua itu dipicu soal rebutan lahan kapling , akibatnya para pedagang yang jadi sasaran, dego dego tempat jualan mereka tiba tiba hilang pada dini hari karena sudah dibuang ke sungai, keributan lain adalah praktik spekulan, karena ketika itu ada lokasi lokasi khusus yang sangat diminati pedagang dari luar daerah, terutama dari Manado.

Sebelum pengukuran kapling, para pedagang dari luar sudah menghubungi para spekulan kapling, dan mereka tidak takut membayar dengan harga yang sangat mahal.

Inilah yang memicu terjadinya keributan di Pasar Senhmggol apalagi pada saat pembelian kapling. Soal syarat KTP untuk bisa mendapatkan kapling sudah dilakukan saat itu.

Masa keemasan Pasar Senggol dimulai dari Walikota Medy Botutihe. Ceritanya begini, baru beberapa bulan dilantik sebagai Walikota dia mulai dipusingkan dengan keributan yang terjadi, bayangkan Ramadhan pertama dia menjabat sebagai Walikota langsung disambut dengan keributan.

Tahun berikutnya, Walikota memanggil Hi Lala yang ketika itu Kepala Biro Manado Pos di Gorontalo, memang sejak masih menjabat Sekda di Kabupaten Gorontalu, Medy yang akrab dipanggil Sultan itu sudah sangat akrab dengan Hi Lala.

Pasar senggol

Medy kemudian menugaskan Hi Lala untuk membentuk tim Pengelola Pasar Senggol yang terdiri dari anak anak muda yang ada di kawasan itu.

Maka terpilihlah Raiskhana sebagai Ketua, lalu Bendaharanya seorang pegawai di Dinas PU dan sekarang dia adalah Lurah Limba B, sedangkan pengurus lainnya adalah Efendi Rahmola, Zulkiflie Husa, Lali dan banyak lagi.

Untuk pertama kalinya kegiatan Pasar Senggol berlangsung sangat aman, ini sesuai dengan harapan Walikota Medy, satu hal lagi Walikota tidak ingin Pemkot dapat provid dari Pasar Senggol karena itu dia niatkan sebagai Jakati kepada anak anak muda di kawasan itu, dan memamg ada ratusan anak muda yang bisa dapat uang berbuka puasa dan lebaran, ada istilah emperan di Pasar Senggol dan ini hak anak anak kampung yang mau jualan apa saja di Pasar Senggol , karena emperan ini tidak masuk dalam daftar jumlah kapling yang ada di Pemkot,

Tahun pertama Pasar Senggol, membuat Walikota sangat gembira tidak saja senggol berjalan sangat aman, tetapi para pengelola Pasar Senggol yang dinilai preman dan tidak tahu apa apa, ternyata mampu menyetor ke Pemkot sebanyak Rp. 20 juta, Medy kemudian memanggil sejumlah
pejabat, lalu menyerahkan dana tersebut kepada Kepala Keuangan seraya mengatakan inilah hasil kerja para preman, dia juga menanyakan apakah selama ini setoran senggol ada yang lebih besar dari anak anak muda ini?, ternyata para pejabat itu juga kaget karena setoran senggol kali ini berkali kali lipat lebih besat dari setoran setoran senggol sebelumnya.

Kegembiaraan Medy ketika itu bukan karena soal nilai dana yang masuk, melainkan karena dia tidak salah memberikan kepercayaan itu pada anak anak muda. Memang sebelumnya Medy mendapat kritikan tajam dari banyak kalangan karena menyerahkan pengelolaan Pasar Senggol pada anak anak kampung, tetapi kata Walikota pertama dua priode di era Orde Baru ini, siapa pun dia namanya warga Kota, itu artinya anak anaknya semua.

Dari tahun ke tahun jumlah setoran terus meningkat. Setelah beberapa tahun kemudian Ketua Senggol diserahkan pada Efendi Rahmola, sampai pada priode Adhan Dambea sebagai Walikota.

Selama 15 tahun Pasar Senggol aman aman saja, tidak ada kecemburuan dari pihak lain karena ketika itu lokasi di seputaran Murni diserahkan pada anak anak muda yang ada di Ipilo, kemudian Raja Eyato Imam Bonjol diserahkan pada anak anak 10 November, dan di Pasar Tua diserahkan pada anak anak Biawu dan Biawao.

Soal preman preman dari luar sudah itu beres karena mereka sudah saling mengenal semuanya 86.

Di periode Marten Taha, semuanya masih berjalan biasa hanya Efendi dan kawan kawan tidak lagi di libatkan, melainkan sudah orang lain.

Sudah dua tahun tidak ada senggol, maka tahun ini pemkot kembali membuka Pasar Senggol, soal harga perkapling masih belum ditentukan. ” kami masih menghitungnya,” kata Ass 1 Pemkot Arifin Muhamad. Ditanya apakah masih banyak peminat, mantan Kaban Kesbang itu, mengatakan nampaknya masih banyak peminat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tinggalkan Balasan