Advertisements
abd karim aljufrie
  • Home
  • Politik
  • Siapa Bilang Adat Melarang, Bismillah Maju Saja Bu

Siapa Bilang Adat Melarang, Bismillah Maju Saja Bu

Image

RGOL.ID GORONTALO – Siapa bilang adat Gorontalo melarang kaum perempuan menjadi Kepala Daerah. Buktinya baik Lembaga Adat pimpinan AD Kali maupun Dewan Adat pimpinan Karim Pateda menepis isue tersebut.

Tidak hanya kalangan adat, bahkan NU dan Muhammadiyah juga memastikan kalau Gorontalo tidak pernah membatasi gerak kaum perempuan dalam meniti karir.

Seperti diketahui 20 tahum silam, Rayna Usman, kalah di Pilkada Pohuwayo melawan Zainudin Hasan gara gara isue adat Gorontalo yang melarang kaum perempuan menjadi Kepala Daerah.

Padahal putri Pohuwato ini sangat memenuhi syarat, dia punya kecerdasan, dia punya dana dia juga nama besar, tetapi hanya karena dia perempuan, dia kalah dengan Zainudin yang bukan putra daerah Gorontalo.

Para Pemimpin Perempuan

Merlan Uloly tidak mau bernasip yang sama, dia terus bergerak melawan isue tersebut yang mulai ditebar lawan lawan politiknya.

Berkaitan dengan isue tersebut, Pemkab Bonbol, menggelar diskusi tentang perempuan dan politik dalam prespektif adat dan agama.

Dari acara tersebut nampak sangat jelas kalau dalam adat Gorontalo tidak ada larangan bagi perempuan untuk menjadi Bupati, Walikota dan Gubernur.

Sekretaris Jenderal Duango Adati Lo Hulontalo (Dewan Adat Gorontalo ), Alim S Niode, yang tampil sebagai narasumber dalam diskusi itu dengan sangat tegas mengatakan, bahawa dalam adat Gorontalo tidak ada larangan bagi kaum perempua untuk menjadi Kepala Daerah.

Bahkan Budayawan Gorontalo ini menampilkan senjarah bagaimana peran wanita Gorontalo mulai dari ratusan tahun silam yang dia sebut sebagai Golden age Gorontalo abad ke 17 .

Dari 1330 sampai. 1650 ada 42 orang raja perempuan di Gorontalo, dsn dari catatan sejarah yang disampaikan Alim Niode, di Suwawa tercatat ada 6 raja perempuan. Menariknya Raja Raja Perempuan Gorontalo, semuanya berprestasi, baik itu di bibidang politik, ekonomi dan pertanian.

Alim juga menampilkan 11 tokoh perempuan dari tahun 1893 sampai 1988. (lihat tabel).

Sementara itu Tokoh NU Bonbol, Suleman Adudu yang juga menjadi pembicara pada acara diskusi itu mengatakan tak ada larangan dalam islam maupun adat Gorontalo bagi kaum peremluan untuk menjadi Kepala Daerah, di masa kerajaan, Gorontalo punya banyak Raja Raja Perempuan. Termasuk di Bonbol, di daerah adat ini tercatat ada banyak perempuan yang jadi Raja, karena itu tidak ada larangan secara adat bagi kaum perempuan untuk menjadi Bupati.

Kalau soal alasan prosesi adat, tentu Kepala Daerah wanita akan disediakan tempat duduk khusus untuk seorang wanita yang tidak bersama pejabat lainnya dari kaun pria. Jadi kata dia tidak ada hal yang bertentangan dengan adat karena sejak zaman dulu sudah ada tata cara yang diberlakukan untuk Raja Raja Perempuan.

Ada 4 nilai positif pada kepemimpinan perempuan, pertama mereka dapat mengambil keputusan dengan berani, kedua, pemimpin perempuan memiliki kemampuan memecahkan berbagai masalah, yang ketiga, perempuan lebih tegas dan presuasif dan yang keempat, perempuan dapat berkolaborasi dengan baik. ” Perempuan adalah pribadi yang hebat, dan ketika mereka menjadi pemimpin sangat mengayomi,” kata Suleman Adudu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tinggalkan Balasan

iklan kpu prov
Klik gambar untuk berita selengkapnya
ads pps siakba
Klik gambar untuk berita selengkapnya
iklan tahapan pilkada kpu bonebolango
Klik gambar untuk berita selengkapnya
Iklan KPU Provinsi
Klik gambar untuk berita selengkapnya
ads
dictionary Baca cable Terkait trending_up Trend format_indent_decrease Terkini dynamic_feed Lainnya