• Home
  • Gorontalo
  • Butuh Satu Juta Insinyur untuk Mencapai Indonesia Emas 2045.Fadel Titip Gorontalo Pada Para Insinyur

Butuh Satu Juta Insinyur untuk Mencapai Indonesia Emas 2045.Fadel Titip Gorontalo Pada Para Insinyur

Image
Foto : Fadel Muhammad saat menjadi narasumber bersama arsitek Gorontalo.

®Reporter : RAGORO

RGOL.ID GORONTALO – Menuju Indonesia Emas 45, Indonesia butuh banyak Insinyur, untuk menjadi Negara no 4 Dunia. Kata Fadel di depan sekita 60 orang Arsitek Gorontalo pada Cara Sarasehenan yang berlangsung di Grand Q Hotel Sabtu malam kemarin, sekarang ini ekonomi India tumbuh pesat, karena mereka melahirkan banyak Insinyur dan sekarang ini India jagonya dibidang Ingineering.

Indonesia sendiri membutuhkan sejuta Insinyur karena dari pikiran pikiran kreatif, bisa melahirkan yang tak ada menjadi ada. Para Insinyur ini memiliki kemampuan berpikir jauh ke depan.

Membangun Gorontalo harus dengan pikiran dan program besar, dan Fadel menyebut Gorontalo harus jadi Lumbung Pangan Nasional.

Untuk itu Fadel menitipkan Gorontalo kepada para Insinyur untuk menuju era keemasan di tahun 2045.

Ada beberapa hal menarik pada sesi tanya jawab, dimana para, para arsitek menyinggung soal pembanguan Gorontalo yang tidak melibatkan sentuhan tangan kreatif para arsitek.

Contoh Bandara Djalaludin Gorontalo, sama sekali tidak menampakan cirikhas Gorontalo, mestinya bangunan bangunan pemerintah seperti itu disayembarakan, agar ada sentuhan kraetifitas sehingga bangunan itu tidak sekadar benda mati.

Semua bangunan mestinya harus punya nilai seni supa hidup, bukan hanya soal pendekatan uang.

Mengenai Gorontalo emas 2045, ternyata IAI sudah menyiapkan master plan bagaimana tampilan Gorontalo 2045. Erick juga menyampaikan kalau AIA Gorontalo punya program gratis membantu rakyat yang tidak mampu untuk mendesain rumah mereka, demikian pula dengan desain masjid juga gratis.

Untuk itu Fadel menyarankan agar AIA menyurati Deprov dan dia akan membantu membicarakannya dengan taman teman di DPRD agar melibatkan Arsitek dalam proyek pembangunan rumah untuk rakyat miskin.

Pada kesempatan itu para Insinyur juga menyingung soal lokasi pembangunan islamic center yang menurut mereka sangat rawan bencana untuk itu disarankan agar lokasi islamic center harus ditinjau kembali.

Ketua dan Sekretaris IAI, Yohanes P. Erick dan Achmad Baculu meminta dukungan Wakil Ketua MPR RI agar pemerintah pusat mengeluarkan regulasi terhadap para arsitek asing yang masuk Gorontalo, tidak saja menggandeng arsitek lokal tetapi juga wajib membagi pengetahuan.

Menurut Eric jumlah arsitek di Gorontalo ada 111 orang, namun yang aktif hanya 39 orang yang lainny belum mengantongi lisensi, Ketua IAI itu juga minta bantuan Fadel agar para arsitek Gorontalo bisa berkiprah di tingkat nasional misalnya terlibat dalam proyek proyek nasional. Ini untuk menambah pengalaman. Erick juga menyampaikan

Sementara itu Sekretaris IAI minta dikungan Fadel sebagai Wakil Ketua MPR RI untuk memperjuangkan agar para Insinyur tidak perlu lagi sokolah ke luar daerah untuk bisa mendapatkan PSPPI.

Jadi ada dua program profesi yang perlu dibuka di Gorontalo karena belum ada

Pertama Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI), yang berminat mengajukan: Universitas Gorontalo (UG) dan Universitas Negeri Gorontalo (UNG)

Lalu Program Profesi Arsitek (PPAr), yang berminat mengajukan: Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Fadel berjanji akan membantu agar dua program tersebut bisa dilaksanakan di Gotontalo.

Sarasehan Kehumasan MPR RI dengan tema Intrepreneursip Profesi Arsitek dan Insinyur Dalam Mendukung Pembanguna di Provinsi Gorontalo dan Perspektif Emapat Pilar MPR RI berlangsung hangat banyak keluhan para Arsitek yang belum mendapat mengakuan dari banyak kalangan bahkan profesi ini belum mendapat penghargaan.

” kami ini dinilai tidak lebih dari seorang tukang gambar,” kata seorang Arsitek.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tinggalkan Balasan