Advertisements
  • Home
  • Legislatif
  • Perayaan Tumbilotohe Sudah Seperti Natalan. Erwin : Dari Konsep dan Konteksnya Saja Sudah Berbeda, Jadi Jangan Disamakan

Perayaan Tumbilotohe Sudah Seperti Natalan. Erwin : Dari Konsep dan Konteksnya Saja Sudah Berbeda, Jadi Jangan Disamakan

Image

Reporter : Jazzday

RGOL.ID (DEPROV) – Diantara seluruh tradisi Ramadhan masyarakat Gorontalo mungkin Tumbilotohe atau dalam bahasa Indonesia nya pasang lampu, tradisi yang paling dinanti masyarakat Gorontalo.

Lihat saja masyarakat begitu bereufuria menyambut dan merayakan Tumbilotohe atau tanda leberan sebentar lagi.

Bahkan Tumbilotohe sudah menjadi magnet Pariwisata bagi masyarakat Sulawesi khususnya Manado yang datang jauh jauh untuk menyaksikan Tradisi Tumbilotohe.

Namun dengan langkanya minyak tanah dan juga di iringi perkembangan zaman, Tumbilotohe yang biasanya menggunakan lampu botol kini beralih ke lampu listrik.

Tak ayal terdapat pro kontra tanggapan terhadap peralihan minyak ke listrik ini,ada yang sangat setuju ada juga yang tidak setuju pasalnya Tradisi Tumbilotohe dengan mengunakan lampu listrik dianggap sudah seperti perayaan Natal.

Secara detail Aleg DPRD Provinsi Gorontalo Erwin Ismail S.Ikom menyampaikan tentang asal muasal Tumbilotohe yang berasal dari Abad 15.

Dimana zaman itu masyarakat menyala kan lampu dengan bahan getah, kemudian beralih ke kapas kemudian sumbu dan minyak tanah (lampu Botol).

Belum lagi secara etimologinya pada kata Tohe tidak jelaskan dengan lengkap, lampu apa yang di maksud apakah lampu organik apa lampu modern.

Namun kata Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Gorontalo yang terpenting masyarakat Gorontalo menjaga serta melestarikan budaya Tumbilotohe turun temurun.

“Mau pakai lampu botol atau pun lampu listrik, yang terpenting hari ini adalah menjaga budaya ini, di situ juga kan ada semangat gotong royong warga”, Kata EI.

Pointnya Ketua IMI Provinsi Gorontalo (Ikatan Motor Indonesia) menyampaikan perayaan Tumbilotohe dan Natal jangan disamakan karena Konsep dan Konteksnya saja sudah berbeda.

“Tidak perlu di permasalahkan kita juga harus terbuka terhadap perkembangan zaman, seperti saat ini, sebelum secanggih ini, Tradisi Tumbilotohe dirangkaikan belotohe mau ile jakati,orang – orang harus datang ke rumah-rumah, namun sekarang liat, orang orang tidak perlu lagi kerumah, tinggal kirim No Rek dan kita harus mempersiapkan dan menerima itu sebagai perkembangan zaman”, Jelas Erwin

“Jadi kalau ada yang pro kontra dimasyarakat terhadap Tumbilotohe sudah seperti Natalan, Natal itu kan pohon terang jadi konteks dan konsepnya itu beda budayanya pun beda dan beragam tentang itu ya pasti beda, jadi ngak bisa disamakan “, Tandasnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Tinggalkan Balasan