®Reporter : RAGORO

RGOL.ID (GORONTALO) – Sebentar lagi dua perusahaan Emas PT. GM dan GSM sudah akan berproduksi, untuk itu Pemprov diingatkan agar ngotot mewajibkan dua perusahaan itu memurnikan hasil olahan tambang mereka di Gorontalo.

Ini penting kata sumber, agar kita tau persis berapa besar emas yang diproduksi dari bumi Gorontalo. ” jangan sampai hanya di dibawa ke Maluku Utara untuk dimurnikan di sana,” kata sebuah sumber.

Mengapa di sana, kata sumber lagi, karena di sana ada Smelter atau mesin pemurni emas yang menjadi milik salah satu perusahaan pertambangan dari 13 perusahan yang mendapat ijin dari pemerintah.

Smelter ini memang sangat mahal, harganya lebih dari 1 Triliun , tetapi Gorontalo harus minta agar hasil produksi emas tetap harus dimurnikan di Gorontalo. Sekali lagi kita harus tau persis berapa jumlah emas yang dihasilkan, agar daerah juga bisa merasakan duitnya

Dia kemudian cerita, bahwa dalam Kepres hanya ada 13 perusahaan pertambambangan yang boleh dapat ijin mengelola tambang dalam hutan.

Tetap pada 2023 kemarin Kepres itu diubah dengan menambahkan 1 perusahaan lagi, itupun hanya anak perusahaan dari salah satu dari 13 peruaahaan itu.

Maka sekarang ada jumlahnya jadi 14, dan dari 14 itu tidak ada GM dan GSM. Timbul pertanyaan dari mana ijin dua perusahaan itu, karena itu dua perusahaan ini bisa dibilang ilegal.

Makanya kata, dia apa haknya perusahaan perusahaan itu mengusir rakyat yang menambang di sana.

Selain tambang, sumber tadi juga mengungkapkan ada saru perusahaan yang memproduksi wood pellet. PT. Biomasa Jaya Abadi ini mendapat ijin menebang hutan kayu seluar 27 ribu hektare untuk kemudian diolah menjadi bahan bakar alternatif yang disebut Wood Pillet.

Harga perkilonya 3.500 ribu , dan setiap pengiriman keluar negeri sebesar 11 ribu ton, bila diuangkan jumlahnya kurang lebih ada 400 M.

Perusahaan ini beroperasi di Popayato, di tengah hutan terpencil selain ada kantornya, juga ada penukiman untuk para pekerjanya, sudah mirip sebuah desa, karena fasilitasnya lengkap. Bahkan perusahaan ini punya pelabuhan sendiri. Yang tak ada pada perusajaan ini adalah ijin lingkungan.

Sayangnya konstribusi perusahaan itu pada daerah tidak nampak di APBD. “bayangkan kekayaan kita diambil, tapi kita tidak dapat apa apa.

Kayu kayu yang usianya puluhan bahkan ratusan tahun dibabat habus, lalu mereka ganti dengan tanaman Kaliandra dan Gamar yang besarnya seperti jari kelingking.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.