oleh

4 tahun Berjuang, Akhirnya Emas 3.7 KG Dikembalikan

Emas Milik Daeng Herman Saat Di timbang Kembali Untuk Dikembalikan.
Proses pengembalian emas seberat 3,7 kg yang dilakukan Kejari Limboto

RadarGorontalo.com – H. Herman Damis atau lebih dikenal dengan panggilan daeng Herman, akhirnya memenangkan emas seberat 3,7 kg miliknya, yang sempat disita karena diduga ilegal. Dalam proses hukum yang berjalan sekitar 4 tahun, Daeng Herman pun divonis bebas, dan Selasa (26/7), Kejaksaan Negeri Limboto meyerahkan menyerahkan emas sebarat 3,7, kilogram kepada Daeng Herman.

Sebelumnya, Daeng Herman di tahun 2012, bersama Moh. Elyas didakwa dalam perkara tindak pidana pertambanngan mineral dan batu bara (UU No. 04 tahun 2012 Jo Pasal 55 ayat 1 KUH PIDANA). Emas 3,7 kg tersebut adalah barang bukti dari hasil penyitaan untuk kepentingan penyidikan yang dilakukan oleh Ditreskrimsus Polda Gorontalo pada tahun 2012, smapai pada tingkat penuntutan yang dititipkan di kantor Pegadaian (Persero) Limboto, berdarkan putusan pengadilan tingkat pertama dan banding di Mahkamah Agung (MA) terdakwa tidak terbukti dan di nyatakan bebas dalam tuntutan.

Olehya MA mengeluarkan pelaksanaan Putusan Nomor 347K/PID.SUS/2014, dan hasil putusan tersebut telah ditindak lanjuti oleh Kejaksaan Negeri Limboto. “Alhamdulilah proses eksekusi pelaksaan putusan tersebut berjalan lancar dan aman penuh dengan suasana kekeluargaan,” ungkap kuasa hukum Zainudin Pedro Bau, SH.C.LA, Dalam proses eksekusi tersebut, pihak Kejari Limboto diwakili oleh Aspidum Chairul Mokoginta, disaksikan oleh aleg Komisi 1 Deprov Gorontalo Hamzah Sidik Djibran, dan Kepala Kantor Pegadaian Limboto, para terdakwa dan keluarga terdakwa. Emas murni seberat 3,7 kg tersebut terdiri dari 6 keping emas leburan bulat, dan 1 balok leburan emas.

Pedro menjelaskan, dengan adanya putusan yang inkrah tersebut, maka
penangkapan dan penyidikan oleh Polda Gorontalo telah Keliru menerapkan hukum kepada kedua terdakwa yang di sangka melakukan tindak pidana pertambangan sebagaimana diatur  UU No 4 tahun 2009. Terdakwa di dakwa melakukan pidana pertambangan yaitu dengan membeli emas dari penambang liar di gunung Pani. Padahal sebenarnya para penambang di gunung Pani adalah anggota KUD Dharma Tani yang memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) konsensi seluas 100 hektar.

Sehingga terdakwa didakwa melakukan pengangkutan material tanpa izin, sementara yang di bawa adalah emas murni (bukan material) sehingga tidak perlu izin karena membawa emas tidak masuk kualifikasi pengangkutan sebagai definisi yang diatur oleh UU Mine ” berdasarkan keterangan saksi-saksi dan fakta di persidangan, kedua terdakwa dibebaskan,” jelas Pedro.

Jaksa melakukan Kasasi namun di tolak oleh Majelis Hakim yang salah satunya adalah Hakim Agung Artidjo Alkotsar, Hakim yang ditakuti oleh para terdakwa Korupsi dan kasus-kasus pidana khusus lainnya. Disinggung soal rehabiliter dan kemungkinan terkadwa balik menuntut minta ganti rugi, Pedro mangatakan, untuk sementara mereka masih akan musyawarah. “Kami masih menimbang, tapi kami serahkan kepada klien kami apa akan melakukan upaya rehabilitasi dan ganti rugi sesuai hak terkdawa atau tidak,” pungkas Pedro. Seperti diketahui, kasus yang menimpa daeng Herman sendiri terjadi 2012 silam. Saat itu, Daeng Herman usai membeli emas dari penambang, membawa emas itu ke Kota Gorontalo dengan maksud hendak dijual. Tapi belum sempat dijual, sudah ditahan kepolisian, karena diduga melanggar undang-undang minerba. (rg-50)


Jangan Lewatkan

Komentar