oleh

Ada Apa dengan Kondisi Sungai Kita

-Gorontalo-559 Pengunjung

GORONTALO (RGOL.ID) – Banjir menjadi satu momok bagi masyarakat belakangan ini. Dengan curah hujan yang cukup tinggi, membuat hampir sebagian wilayah di Kabupaten Gorontalo terendam.

Tibawa, Limboto Barat, Limboto, Bongomeme harus meringis sakit akibat musibah ini. Uniknya banjir bukan hanya terjadi didaerah hilir, Desa Daenaa yang menjadi daerah puncak atau hulu sungai tercatat harus kehilangan 2 warganya akibat tenggelam hanyut karena aliran sungai.

Berpikir soal ini, beberapa stakeholder terkait angkat bicara. Kepala Bappedas Heru Permana S. Hut, M.T,M.A menjelaskan persoalan banjir kali ini cukup kompleks, tidak hanya kondisi sungai, lahan di pegunungan hingga sampah juga menjadi penyebab.

Dengan durasi hujan yamg cukup lama 4-5 jam, konsentrasi cepat dari hulu ke hilir kadang dari 0-15 kilometer dengan waktu tempuh menuju hulu/hilir derasnya cukup cepat, permasalahan utama adalah perubahan tutupan lahan.

“kalau misalnya di hulu air hujan tumpah ditambah air hujan yang rata tidak ada vegetasi yang menahan sehingga air banjir tersebut coklat sekali karena membawa sedimen yang cukup banyak,” ujarnya.

Misalnya jagung kalau dipanen bersih (gundul) otomatis tidak ada menahan butiran air. Kalau misalnya ada kombinasi tanaman pohon-pohon berupa buah-buahan yang bisa memnebtuk satifikasi seperti hutan itu bisa menahan butiran air hujan.

“dalam artian daya rusak air menjadi deras ke bawah,” paparnya. Selain itu pula sedimentasi yang mengalir ke hilir itu menyebabkan pendangkalan karena tanah tergerus terus ketika hujan. Akhirnya kapasitas daya tampung sungai akan berkurang ketika ketika debit hujan semakin tinggi.

“itu menyebabkan air hujan meluber kemana-mana ditambah lagi saluran drainase diperkotaan yang kurang bagus,” ujarnya.

Selain itu daerah banjir yang terkena dampak ada dicekungan yang memang tempat berkumpulnya air. Kenapa denah terjadi di hulu?

Bisa karena meanderingnya tersumbat. “kalau kita biarkan terus menerus, hampir pasti setiap musim hujan akan banjir kalau tidak ada perubahan vegetasi diatas,” ujarnya.

Kini Upaya-upaya yang bisa dilakukan untuk mengembalikan vegetasi dalam jangka panjang sesuai fungsi kami adalah penanaman pohon kembali.

Untuk diluar kawasan ada program yaitu pohon bibit rakyat, bibit gratis, pohon bibit desa agar masyarakat mengkombinasikan tanaman bibot jagung semusim dengan tanaman kayu-kayuan agar vegetasi stratafikasi kanopi terbentuk walau pun tidak kembali ke kondisi awal.

Sementara itu Kadis Pertanian Kabgor, Rahmat Pomalingo mengatakan, memang tidak bisa dipungkiri, lahan pertanian ini dia mampu menekan luas hutan seiring dengan jumlah penduduk setiap tahunnya bertambah.

“seiring produksi pertanian bertambah namun juga kami tak ingin hutan ini rusak,” ucapnya. Oleh karena itu, khusus diwilayah ketinggian dan perbukitan itu agar kembali ditanam tanaman keras.

Edukasi bagi mereka juga selalu kita lakukan, yakni menanam tanaman MPTS disamping sebagai penguat teras atau menanam tanaman yang memiliki fungsi ganda, jenis tanamannya keras, misalnya pala, atau jambu mente.

Kami juga berpesan kepada mereka, kiranya dalam setahun kiranya bisa dua tiga kali menanam, jagung misalnya. Sehingga takkan ada lahan yang kosong sehingga bisa menahan laju air kepermukaan.

“dan sampai saat ini itu kita terus lakukan,” ujarnya. Disisi lain Kadis DLH Saiful Kiraman menambahkan, untuk banjir memang hujan cukup deras kali ini dan hampir semua daerah. Selain memberikan pengetahuan ke masyarakat.

“saat ini kita sudah mulai merancang perda lingkungan, sudah hampir rampung hanya saja kemarin adanya penyesuaian UU cipta kerja. Jadi belum jadi,” ujar Saiful. (rg-35)


Komentar