ilustrasi

RadarGorontalo.Com – Dari total 215 penderita HIV/Aids, 2 orang diantaranya berstatus pelajar di salah satu sekolah kejuruan. Due (17) misalnya (nama samaran,red). Kepada Radar Gorontalo, Due yang masih duduk di kelas dua salah satu SMK itu mengaku, sudah mengenal seks sejak kelas tiga SMP.

Awalnya, dilakukan dengan sang pacar, hingga kemudian gonta-ganti pasangan. Tanpa sadar, Due sudah terjangkit virus mematikan itu. Kini Dua hanya bisa pasrah, dengan kondisinya itu. Lain lagi dengan Nunu (20) (nama samaran,red).

Gadis berparas cantik itu, baru lulus tahun kemarin. Nunu, terjangkit karna aktifitasnya sebagai pekerja seks. Setelah lulus sekolah, Nunu tetap melanjutkan profesinya itu, kendati sudah mengetahui, kalau penyakit yang diidapnya itu adalah penyakit menular dan mematikan. Menurut salah seorang sumber dari KPA, sempat ada upaya pengobatan yang ditawarkan. Namun Nunu menolak dengan berbagai alasan. Belakangan, ponselnya sudah tidak bisa dihubungi.
Jumlah wanita pelaku prostitusi, tiap tahun bertambah. Proses rekrutmen, sepintas mirip penjualan manusia alias human trafficking. Informasi yang diperoleh Radar Gorontalo dari salah seorang mucikari, para gadis selain datang sendiri, ada juga yang direkrut dari kampung-kampung. Tidak semuanya berasal dari daerah di Gorontalo, sebagian besar datang dari daerah tetangga luar Gorontalo. Kata si Mucikari, mereka sudah tau pekerjaan yang akan mereka lakoni. Tidak ada pengekangan, karena mereka bebas memilih tempat tinggal. Mau di kos-kosan atau rumah kontrakan, toh mereka yang bayar sendiri. Soal resiko terjangkit penyakit menular atau hamil pun, bukan urusan mucikari.
Banyaknya remaja yang terjun ke dunia prostitusi, merupakan salah satu kegagalan pengawasan orang tua, maupun gagalnya sistem pengawasan dalam dunia pendidikan itu sendiri. Dari penelusuran yang dilakukan, rata-rata pelajar atau mahasiswa yang terjerat dalam praktek prostitusi, hanya karena ingin mepertahankan gaya hidup yang serba mahal. Prostitusi dianggap jalur paling cepat untuk memperoleh uang. Tak perlu ada wawancara, atau keahlian tertentu. Modal paras cantik dan body aduhai, itu sudah lebih dari cukup.

Ironisnya, merasa nyaman dengan profesi itu, mereka pun enggan bertobat. Alhasil, lulus sekolah pekerjaan yang tadinya jadi sampingan, justru jadi pekerjaan utama. Bahaya HIV/Aids hingga penyakit menular lainnya diabaikan, demi uang dan gaya hidup. Semua pihak, mulai dari pemerintah, keluarga, tokoh agama harus berperan aktif untuk menekan ini, demi menyelamatkan generasi penerus bangsa ini. (RG)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.