oleh

Bukan Utang, Oleh: Dahlan Iskan

-DI's Way-212 Pengunjung

HAL yang sudah jelas itu kemarin kembali dijelaskan: dana asing yang masuk ke SWF itu statusnya ekuitas, bukan pinjaman. Rupanya masih banyak yang terus mempertanyakan: apakah dana asing lebih Rp 100 triliun itu tidak menambah utang luar negeri yang sudah Rp 6.500 triliun. SWF itu nama panggilan –sovereign wealth fund.

Nama resminya Indonesia Investment Authority (INA) atau LPI lembaga pengelola investasi. Dana lebih Rp 100 triliun itu masuk ke SWF dari berbagai negara.

Yang jumlah itu masih akan terus bertambah. Ributnya bukan main. Maka direksi LPI yang baru berumur dua minggu perlu menegaskan lagi: bahwa itu bukan dana pinjaman. Itu dana investasi.

Tidak akan menambah utang nasional. Sejak penegasan itu mungkin tidak ada lagi yang mempertanyakan status dana tersebut. Dan lagi dana itu sebenarnya belum ada. Belum masuk beneran.

Bentuknya masih komitmen. Itu pun belum jelas: komitmen lisan atau tertulis. Di dunia global komitmen seperti itu masih dengan mudah berubah kecuali ada ”tawaran khusus” di balik komitmen tersebut.

‘Tawaran khusus” itu tidak harus dalam bentuk return yang lebih tinggi. Bisa saja dalam bentuk konsesi yang kelihatan maupun yang gaib. Yang jelas Menko Perekonomian Ir Airlangga Hartarto sudah memastikan dana sejumlah itu bakal masuk ke SWF.

Menko Luhut Panjaitan dan Menteri BUMN Erick Thohir juga mengatakan hal yang kurang lebih sama. Pokoknya SWF akan jadi andalan baru pembangunan ekonomi kita.

Khususnya pembangunan infrastruktur yang menjadi ”panglima” di era Presiden Jokowi. Yang belum dijelaskan adalah ini: di mana dana tersebut akan dicatatkan.

Kalau itu sebagai ekuiti bukan utang akan dicatat menjadi ekuitinya siapa. Pilihan pertama: menjadi ekuitinya SWF/LPI. Pilihan kedua: sebagai ekuiti titipan sementara. Pilihan ketiga: sebagai ekuiti di proyek yang dimasuki SWF.

Yang mana? Baiknya jangan dulu ditanyakan ke direksi SWF. Masih banyak pekerjaan rumah di sana. Kita tunggu saja kejelasan lebih lanjut. Merumuskan di mana ekuiti itu akan dicatatkan benar-benar tidak mudah. SWF bukanlah perseroan terbatas.

Yang memiliki lembar saham. Yang setiap dana ekuiti masuk bisa dicatat sebagai saham. SWF juga bukan lembaga keuangan seperti bank. Yang bisa mencatat dana luar dalam bentuk tabungan atau deposito. Yang SWF bisa memberikan bunga.

“Saya juga belum tahu. Belum pernah ada penjelasan soal itu,” ujar Mohamad Misbakhun, anggota DPR di komisi keuangan. Saya sendiri masih sulit membayangkan di mana ekuiti itu akan dicatat.


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.