oleh

Daging Anthrax Dijual Bebas

ilustrasi (Anwar/RG)
ilustrasi (Anwar/RG)

Desak Percepat Pendirian RPH

RadarGorontalo.com – Wabah anthrax mulai berpengaruh di sektor ekonomi. Walaupun belum ada indikator resmi, namun diprediksi saat ini produksi daging sapi di Gorontalo, terus menurun seiring warga yang mengurangi konsumsi daging sapi.

Dinas Peternakan Provinsi Gorontalo, menemukan di salah satu Pasar di Kota Gorontalo, adanya daging sapi yang diduga terkontaminasi anthrax namun dijual bebas. Temuan itu, diungkap Agustina Kilapong Kabid Dinas Peternakan Provinsi Gorontalo, Jumat (17/6).

Dikatakannya, saat melakukan penyisiran di salah satu pasar besar di Kota Gorontalo, pihaknya menemukan adanya daging sapi yang diduga terkontaminasi virus anthrax. Si pedagang pun, diminta untuk tidak menjualnya. Karena khawatir merugi, awalnya, permintaan dinas peternakan tak dipenuhi, namun setelah dilakukan upaya persuasif, akhirnya pedagang mau meyimpan dagingnya untuk tak dijual. Sayang, seharusnya daging itu disita, untuk menjaga jangan sampai pedagangnya nekat untuk jual kembali.

Dijelaskan Agustina, salah satu solusi yang bisa mencegah penyebaran anthrax hingga tak terus makan korban manusia, maka perlu adanya rumah potong hewan (RPH).

Di Provinsi Gorontalo sendiri, satu-satunya RPH adalah bantuan dari pemerintah pusat, hanya ada di Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara. “jaraknya terlalu jauh, itupun dipastikan hanya akan melayani wilayah Gorut saja,” ungkapnya.

Di Kota Gorontalo sendiri segera dibangun RPH, tepatnya di Kecamatan Dungingi. Proyek berbandrol 4 miliar rupiah itu, akan dibangun tahun ini, dan sekarang masih dalam proses lelang.

Nah, diharapkan RPH serupa bisa juga dibangun di kabupaten/kota lainya. “pengadaan RPH adalah wewenang dari pemerintah kabupaten/kota,” timpal Agustina.

Nantinya dengan keberadaan RPH ini, seluruh hewan ternak yang akan dipotong, akan melalui pelabelan. Sebelum disembelih hingga sudah disembelih, akan melalui serangkaian pemeriksaan. Cara ini akan meminimalisir adanya daging terkontaminasi dijual bebas di pasaran. Pentingnya keberadaan RPH, karena daging hewan ternak seperti sapi atau kambing yang mengandung anthrax, diketahui nanti setelah dipotong.

Sementara itu, Kepala Bank Indonesia perwakilan Gorontalo, Suryono mengatakan, pihaknya mengkhawatirkan kalau persoalan anthrax tak segera teratasi, takutnya daerah luar takut menerima sapi dari Gorontalo. Dan ini akan berdampak pada pelambatan pertumbuhan ekonomi. Suryono pun menambahkan, walaupun belum ada indikator resminya, namun pihaknya mulai menduga, persoalan anthrax mulai berpengaruh pada berkurangnya produksi daging sapi.

BI Gorontalo pun menggelontorkan bantuan berupa 15.000 vaksin anthrax lengkap dengan 2000 alat suntik sekali pakai. Penanganan anthrax menjadi perhatian BI, karena salah satu program unggulan Provinsi Gorontalo adalah daging sapi. Pemberian vaksin itupun, diharapkan bisa menurunkan dampak penyebaran dan kembali menodorong ekonomi yang ditopang sektor peternakan. (rg-34)


Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Komentar