Dari Jogja Peduli Bencana Gorontalo

Risky (pegang gitar) bersama rekan-rekan mahasiswa di Jogja, gelar aksi galang dana untuk Banjir Gorontalo.
Risky (pegang gitar) bersama rekan-rekan mahasiswa di Jogja, gelar aksi galang dana untuk Banjir Gorontalo.

Gelar Pentas Seni, Mahasiwa 9 Daerah Bergabung

RadarGorontalo.com – Bencana banjir yang terjadi di Kabupaten Gorontalo, memicu reaksi dari berbagai kalangan. Di kota Gorontalo sendiri, hampir di semua perempatan lampu merah Kota Gorontalo, terlihat sejumlah anak muda berorasi sambil meminta donasi. Mahasiswa di perantauan pun tak ketinggalan. di Jogjakarta, aksi mahasiswa Gorontalo, peroleh dukungan dari mahasiswa daerah lain, hingga kalangan seniman Jogja. Berikut, cerita Risky Nihali mahasiswa asal Pohuwato yang ditunjuk sebagai ketua panitia.

Jadi kata Risky, gerakan solidaritas itu tercetus disela-sela diskusi Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober kemarin, yang digelar Kerukunan Pelajar Mahasiswa Indonesia Pohuwato (KPIMP) cabang Jogja, sejumlah persiapan pun langsung dibahas, dan dikomunikasikan dengan seluruh anak mahasiswa asal Gorontalo. Rupanya kabar aksi solidaritas itu, menjadi viral dan mendapat dukungan dari mahasiswa rantau asal daerah lain. Aksi itupun dinamai, Aliansi Gerakan Mahasiswa Peduli Bencana.

Bermodalkan kardus, dan kertas putih, aksi pun dimulai besok harinya tanggal 29 Oktober. Sesuai rencana, aksi galang dana dilakukan di titik 0 Kilo meter kota Jogja. lokasi ini dipilih, karena letaknya yang strategis. Berada di persimpangan kantor pos besar, lokasi itu juga menjadi pusat pariwisata kota Jogja. Selama dua hari aksi pun digeber.

Tepat hari ketiga, Senin 31 Oktober, Risky dibantu Kordum Rifaldi dan Korlap Tomi lahay, coba mendirikan posko. Sayang, mereka dihalangi oleh PAM Budaya Malioboro, karena belum ada izin. “kami sudah mengurus perizinan di dinsos, proses nya 1×24 jam, dan surat keluar pada besok harinya (1 november,red),” ungkap Risky. Sesuai petunjuk dinsos, mereka diizinkan untuk mendirikan tenda, sambil tunggu izin keluar, tapi PAM Budaya tak mengizinkan. Aksi pun terpaksa dibubarkan.

Selasa, 1 November posko pun didirikan. aksi itupun dimulai. Untuk menarik minat penjalan kaki, Risky dan rekan-rekan, menggelar pentas tari Gorontalo, lengkap dengan pakaian adat. Manuver ini berhasil memikat para pejalan kaki. Mereka datang menyaksikan sekaligus berdonasi. Yang mengharukan, aksi yang tadinya diperkirakan hanya akan diikuti mahasiswa asal Gorontalo saja, ternyata juga diikuti organisasi mahasiswa asal daerah lain, yang ikut membantu mengumpulkan donasi. Mereka datang dari berbagai daerah. Mulai dari Mahasiswa Sulut, Mahasiswa Sulteng, Mahasiswa Ambon, Mahasiswa Maluku Utara, Mahasiswa Gayo, Mahasiswa Bogor, Forum Mahasiswa Patimura, hiingga Persatuan Mahasiswa Sulawesi. Alasan mereka satu, ini urusan kemanusiaan. “Alhamdulillah, setelah posko berdiri, banyak kawan-kawan mahasiswa daerah lain, juga ikut gabung,” ujarnya.

aksi-solidaritas-mahasiswa-jogja

Rupanya, aksi kali itu ikut memancing para seniman Jogjakarta, yang juga ikut pentas meramaikan aksi penggalangan dana untuk banjir di Gorontalo. Sejumlah lagu, Sulawesi pun mereka bawakan, kendati lirik lagi dalam bahasa daerah itu, dihiasi dengan dialek medoknya Yogya. Suasana keakraban pun kental terasa. Tak peduli dari daerah mana, yang mereka tahu aksi ini adalah untuk kemanusiaan. “Alhamdulillah, hasilnya memuaskan,” kata Risky.

Aksi galang dana yang dilakukan Risky dan kawan-kawan itu, tak berhenti satu hari. Hingga kamis (03/11) malam, aksi serupa masih digelar. “Kami terus membuka ruang yang seluas-luasnya untuk organisasi dan seluruh masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam aksi solidaritas ini. Sesuai dengan surat izin yg keluar gerakan ini sampai tanggal 3 November (malam ini). Rencana nya akan kami perpanjangan hingga hari Sabtu nanti,” pungkas Risky. (rg-34)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.