ilustrasi (Anwar/RG)

RadarGorontalo.com – Tiap tahun, masing-masing pemerintah daerah menggelontorkan puluhan bahkan ratusan miliar duit dari APBD, untuk mendanai program yang intinya bertujuan mengurangi jumlah penduduk miskin. Anehnya, bukan berkurang, angka kemiskinan justru bertambah. Rupanya banyak masyarakat yang salah paham. Survei kemiskinan disangka survei untuk pemberian bantuan, hasilnya pun sudah bisa ditebak.

Gengsi moo pate, doi paralu (gengsi bikin mati, duit perlu). Ini rupanya tak sekedar semboyang, tapi benar-benar diterapkan. Berbeda dengan beberapa tahun silam, sekitar tahun 90 an ke atas. Kala itu, saat sensus penduduk, angka kemiskinan di Gorontalo selalu berada pada level bawah. Kenapa? rupanya banyak masyarakat Gorontalo, malu dicap miskin. Tapi sekarang tidak. Justru, biar sudah mampu, mereka tak malu dikategorikan miskin, yang penting bisa terima duit bantuan pemerintah. Alhasil, kendati sudah dihujani dengan berbagai program dan bantuan bernilai puluhan bahkan ratusan miliar, angka kemiskinan bukan turun, malah menunjukkan tren kenaikan.

Terungkap dalam agenda rapat beberapa waktu lalu di Pohuwato, terkait program pengentasan kemiskinan. Tingginya jumlah penduduk miskin, tak sepenuhnya diakibatkan program atau metode pengambilan data yang salah. Rupanya, ada kesalah pahaman. Warga, menyangka survei kemiskinan adalah survei pemberian bantuan. Alhasil, warga yang terbilang mampu pun berlomba-loma ingin namanya dimasukkan, agar bisa dapat bantuan. Temuan di Pohuwato, bisa jadi dialami daerah lain. Mengingat, daerah lain juga memiliki target yang sama soal kemiskinan. Ulah seperti itu, akan memberikan dampak negatif pada laporan kinerja pemerintah daerah.

Humas Pohuwato melalui Kasubag Pemberitaan Usman Bay, saat dikonfiirmasi membenarkan temuan tersebut. Itulah yang kemudian melatarbelakangi pemerintah daerah, menurunkan tim khusus untuk menelusuri, dan mendapatkan klarifikasi data di lapangan. “langkah ini, bukan untuk membantah hasil pendataan lembaga resmi,” tegas Usman. Disisi lain, data-data dari tim khusus ini, bisa juga digunakan untuk memantapkan perencanaan pemberian bantuan, agar lebih tepat sasaran. “data dari tim khusus juga, bisa meminimalisir terjadinya penyaluran bantuan yang salah sasaran,”timpalnya singkat.

Dari rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo Maret silam, angka kemiskinan masih saja tinggi. Dari total jumlah penduduk sekitar 1,14 Juta jiwa, 17,72 persen atau 203.186 orang diantaranya masuk kategori miskin. Namun jika melihat tahun sebelumnya, angka kemiskinan justru mengalami penurunan. Ini terbilang prestasi, karena kemarau panjang atau elnino yang menjadi penyebab utama sektor pertanian anjlok di tahun 2015, dampaknya masih terasa sampai tahun 2016. Namun, upaya pemerintah mengatasi itu terbilang baik, dibuktikan dengan penurunan angka kemiskinan. Selain faktor alam, arus urbanisasi dari desa ke kota, membuat jumlah penduduk di desa berkurang, dan ini mempengaruhi persentase kemiskinan. (rg-34)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.