oleh

Dewi Sartika Hemeto Sodorkan Solusi 4M

-Gorontalo-421 Pengunjung

RGOL.ID, GORONTALO – Swasembada pangan masih menjadi masalah nasional, termasuk di Provinsi Gorontalo, khususnya di Kabupaten Gorontalo. Salah satu faktor penghambat pembangunan sektor pangan menuju swasembada pangan adalah hampir semua komoditas mengandalkan impor.

Terkait dengan hal itu, Komisi I DPRD Kabupaten Gorontalo, dipimpin langsung Ketua Komisi, Syarifudin Bano melakukan audiens dengan Komite II DPD RI yang diterima langsung oleh senator asal Gorontalo, Dewi Sartika Hemeto (DSH).

Dari pertemuan itu, ada beberapa hal yang diutarakan Komisi I DPRD Kabupaten Gorontalo, diantaranya ketersediaan stok pupuk dari 38 ribu ton, sisa 34 ribu ton, ini tidak cukup untuk stok petani di Kabgor, sehingga itu perlu penambahan kuota pupuk untuk petani Kabgor. Selain itu, Komisi I juga meminta kepada Bapedas melalui Dewi Sartika Hemeto untuk program penghijauan bantaran sungai.

Masalah lain yakni tidak seimbangnya luas wilayah Kabgor dengan bantuan alsintan, sehingga itu dibutuhkan tambahan bantuan Alsintan untuk Gapoktan. Terakhir yang disuarakan Komisi I kepada Komite II DPD RI adalah perkembangan progres pelabuhan Bilato.

Sementara itu, Dewi Sartika Hemeto saat menerima kunjungan Komisi I DPRD Kabupaten Gorontalo, menyampaikan terima kasih sudah melakukan audiens dengan Komite II DPD RI. Pada kesempatan itu, DSH sedikit memberikan gambaran bahwa Komite II salah satu mitra kerjanya adalah Kementerian Pertanian yang tentunya sesuai dengan materi audiens tentang swasembada pangan.

Dewi menyampaikan bahwa pada tanggal 19 Januari 2021, Komite II DPD RI yang dipimpin langsung Ketua Komite, Yorrys Raweyai melakukan RDP dengan Kementerian Pertanian RI yang diwakili Sekjen Kementan RI.

Dewi juga memaparkan capaian Kementerian Pertanian RI sepanjang tahun 2020 sampai dengan awal tahun 2021, dimana pada Desember 2020, surplus cadangan beras melampaui target, semula diprediksi 6 juta ton, tapi akhir Desember 2020 bisa surplus neraca beras 7,38 juta ton. Keberhasilan ini dicapai salah satunya dengan mempercepat masa tanam II pada lahan seluas 5,6 juta hektar.

Hal ini agar produksi panen pada musim kemarau bisa mencapai 15 juta ton. Selanjutnya untuk tahun 2021 ini, terjadi surplus sampai dengan bulan Mei 2021. Stok yang tersedia saat ini diperkirakan sebanyak 24,90 juta ton, dengan proyeksi produktivitas produksi sampai dengan Mei sebesar 17,51 juta ton. Sementara kebutuhan beras sampai dengan Mei nanti diproyeksi hanya sebesar 12,33 juta ton, artinya ada surplus sebesar 12,56 juta ton.

“saya pribadi menilai bahwa langkah taktis yang diambil pemerintah ini perlu untuk kita apresiasi, mengingat pada akhir 2020 kemarin, organisasi pangan dunia (FAO) telah memberikan warning akan dampak Covid-19 yang memicu restriksi perdagangan, akibatnya terjadi gangguan dalam rantai pasok distribusi pangan yang dibarengi dengan penurunan daya beli masyarakat,” kata Dewi Sartika Hemeto.


Komentar