oleh

Dugaan Kontrak Fiktif Dua Oknum Kades di Gorut

RGOL.ID, GORONTALO – 2 (dua) oknum kepala desa (kades) di Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut), Provinsi Gorontalo diduga melakukan kontrak fiktif terkait proyek Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJU-TS).

Berdasarkan informasi yang diterima, proyek PJU-TS itu merupakan proyek pembangunan yang bersumber dari dana desa tahun 2021.

Belakangan kedua desa yang merencanakan pelaksanaan proyek tersebut, yakni, Desa Langge, Kecamatan Anggrek dan Desa Botungobungo, Kecamatan Kwandang.

Proyek tersebut masuk dalam RKPDes perubahan tahun anggaran 2021.

Kepada RGOL.ID, Achmad Syarifudin selaku pihak PT Bibit Bumi Perkasa mengaku, dalam kontrak kerja, sebagaimana surat pemesanan bermaterai yang telah diteken, kedua oknum kades memesan barang berupa lampu tenaga surya Two Inn One berkapasitas 80 watt, masing-masing 3 unit dan 7 unit dengan harga per unit Rp 18 juta.

Namun demikian, sebelum barang diterima, pihak perusahaan diminta untuk menitipkan dana sebesar Rp 12 juta dan Rp 28 juta kepada kedua oknum kades tersebut.

“Dana itu katanya sebagai uang titipan, di mana per unit dihitung Rp 4 juta,” ungkap Achmad ketika menghubungi RGOL.ID.

Namun, pada pelaksanaannya, kedua oknum kades ditengarai tidak memenuhi janji sesuai kontrak kerja yang telah teken dengan pihak PT Bibit Bumi Perkasa selaku perusahaan penyedia dan pemasangan set PJU-TS.

“Sudah setahun saya menunggu, tapi tidak ada kabar dari kedua kades untuk melanjutkan pemasangan. Padahal, barangnya sudah dipesan dan sudah ready,” kata Achmad.

Kedua kades pun lanjut Achmad, seakan cuek terhadap persoalan tersebut.

“Saya sudah temui hingga ke rumah mereka, tapi saya hanya dijanjikan, tanpa ada realisasi,” bebernya.

Memang untuk Desa Langge, Achmad mengaku dari 3 unit yang dipesan, 2 unit sudah terpasang. Hanya saja, realisasi pencairannya belum juga dilakukan.

“Sudah 2 lampu yg terpasang di Desa Langge dan tidak ada pembayaran sampai saat ini. Kadesnya saya ketemu kemarin masih berkeliaran bebas dan menjanjikan harapan palsu sampai saya terlantar di Gorontalo sudah 2 minggu ini,” imbuhnya.

Sementara untuk Desa Botungobungo, dari 7 unit yang dipesan, belum sama sekali dilakukan pemasangan. Karena memang, pihak pemerintah desa belum melakukan permintaan pemasangan.

“Minggu kemarin saya sudah laporan juga ke bendaharanya minta di tolong dibayar, tapi sampai saat ini belum ada jawaban,” bebernya.

Atas permasalahan ini, Achmad meminta itikad baik dari kedua oknum kades, paling tidak mengembalikan uang titipan dan biaya pemesanan unit yang telah terpasang.

“Saya ingin permasalahan ini diselesaikan dengan baik-baik, tapi kalau tidak ada itikad baik, maka terpaksa saya bawa ke jalur hukum,” tegasnya.

Sementara Kades Botungobungo, Ramli R Kakilo ketika dikonfirmasi membenarkan mengenai proyek tersebut.

Ia mengaku pihaknya bukan tidak ingin melanjutkan proyek tersebut. Hanya memang, setelah kontrak pemesanan dilakukan, pihaknya justru menjadi khawatir ketika proyek itu dilaksanakan.

“Kami khawatir tidak akan mendapatkan rekomendasi pencairan, ketika proyek ini jalan. Makanya, kami belum lanjutkan,” kata Ramli.

Soal dana titipan, Ramli mengaku pihaknya tetap berusaha mengembalikan kepada pihak perusahaan.

“Sudah Rp 13 juta yang saya kembalikan,” imbuhnya.

Sementara untuk kelanjutan proyek tersebut, Ramli menegaskan pihaknya masih akan tetap mempercayai PT Bibit Bumi Perkasa, kalau memang nantinya sudah mendapat rekomendasi melaksanakan program PJU-TS. (ind-56)


Jangan Lewatkan

Komentar