Dugaan Korupsi Dana Hibah BNNP, Polda Tetapkan 4 Tersangka

Satu diantara empat tersangka dugaan kasus korupsi dana hibah, ketika dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Kota Gorontalo.

RadarGorontalo.com – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) diguncang dugaan kasus korupsi. Dana hibah senilai Rp. 2 Miliar tahun 2012 dari Pemprov Gorontalo, diduga tak bisa dipertanggung jawabkan pemanfaatannya.

Empat oknum anggota BNNP Gorontalo ditetapkan sebagai tersangka oleh Tim Reskrim Khusus Polda Gorontalo, masing-masing berinisial mantan Kepala BNNP HD, mantan Bendahara berinisial IM, mantan Kabid Pencegahan berinisial HS dan oknum perwira Polda berpangkat AKBP berinisial TD. Kabid Humas Polda Gorontalo AKBP. Ary Dony membenarkan adanya penetapan tersangka dalam dugaan kasus korupsi ini. Kamis kemarin, bendahara berinisial FM, telah menjalani proses tahap II di Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Gorontalo, usai melapor ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Gorontalo. IF langsung ditahan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ampy SH ke runtan Donggala mengunakan mobil khusus.

Penjelasan Saiful yang juga penasehat hukum dari terdakwa, kasus ini bermula ketika BNNP Gorontalo hendak mengajukan pengusulan permintaan dana hibah, sebesar Rp. 4 Miliar ke DPRD Provinsi Gorontalo di tahun 2012 silam. Dana ini diperuntukkan sejumlah kegiatan seperti sosialisasi, perjalanan dinas dan lainnya. Namun DPRD Provinsi Gorontalo saat itu, hanya menyetujui dana sebesar Rp. 2 Miliar. “Rp. 2 Miliar itu yang menjadi persoalan hukum sekarang, terdakwa harus mempertanggung jawabkan uang yang diterima dan dikeluarkan. Diketahui terdapat ada perbebedaan catatan, terpaksa harus dipertanggung jawabkannya,” ujar Saiful.

Syaiful menambahkan bahwa, pengakuan dari kliennya, itu semua adalah sebuah kelalaian. Sebab, sistem yang berlaku di BNNP Gorontalo saat itu, bisa disebut tidak sesuai prosedur. Artinya, setiap ada yang mau menggelar kegiatan turun lapangan, contohnya kunjungan ke Marisa. Langsung menghadap ke terdakwa selaku bendahara, tanpa harus melalui pimpinan. “Ini yang membuat terdakwa sempat keberatan, dan meminta pendampingan dari penasehat hukum,” ungkapnya.

Kemudian mengenai kenapa baru terdakwa yang dilakukan proses tahap II, Syaiful mengatakan, dirinya tidak mengetahui soal itu. Dan mengatakan hanya penyidik yang lebih tahu, soal pelimpahan kenapa baru diberlakukan untuk satu tersangka. “Yang jelas tersangkanya ada empat orang,” tutur Syaiful.(tr-10/rg-62)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.