oleh

Fungsi Media Cegah Terorisme

-Gorontalo, Headline-145 Pengunjung
Suasana kegiatan yang dilaksanakan FKPT Provinsi Gorontalo, yang diikuti seluruh media se Provinsi Gorontalo.

RadarGorontalo.com – Dalam pencegahan paham radikalisme dan terorisme, dibutuhkan fungsi media. Melalui kegiatan yang digelar Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Gorontalo, diharapkan literasi media sebagai upaya, cegah dan tangkal radikalisme, terorisme di Masyarakat Kamis, ((9/11).

Ketua FKPT Provinsi Gorontalo Abdullah Hayati, menyatakan pemberitaan di media massa supaya memberi kesejukan dan tidak mengarah ke provokasi, yang mengakibatkan pembacanya menjadi radikal. Akibat radikalisme, berpotensi terjadi aksi terorisme. “Harus membawa misi peace jurnalisme, titiknya ada di situ program kami,” ujarnya.

Sementara itu Ketua Dewan Pers Yosep Adi, menjelaskan maraknya media daring dan mudahnya akses ke situs-situs berita maupun blog, membuat masyarakat saat ini juga menjadi bagian yang kaget untuk memahami isi berita. Shock culture terjadi karena minimnya pemahaman literasi media. “Apalagi saat ini sangat banyak media sosial yang isinya provokatif, dan saling hujat serta mengandung ajaran terorisme,” urainya.

Dengan adanya kegiatan yang dilaksanakan FKPT Gorontalo ini, diharapkan melalui forum koordinasi ini para bloger, para santri, guru, pekerja media dan lain-lain untuk menularkan ajaran dan pemberitaan yang mengundang kedamaian. Bukan justru menyebarkan ajaran radikal yang tidak bisa diterima di negeri ini. Era perkembangan teknologi dan informasi yang semakin maju, media justru memiliki potensi menjadi sarana terjebaknya seseorang ke dalam radikalisme.

Menurut Yosep, berkembangnya paham radikalisme terorisme banyak melalui media cetak, media daring, dan media sosial. Bahkan, para pengikut paham ini dibaiat tanpa harus bertemu secara langsung, hanya dengan melalui telepon pintar saja sudah cukup. “Angkatlah isu-isu kebudayaan untuk menumbuhkan rasa damai dalam kehidupan di masyarakat,” kata dia.

Apalagi, Gorontalo yang memiliki adat yang sangat kental. Maka harus dijaga dan diredam cara-cara radikal yang belakangan ini sangat ramai di media sosial. Dengan kultur Gorontalo yang damai, maka paham radikalisme terorisme bisa dicegah sedini mungkin. “Tercatat media online saat ini mencapai 43.000 media, sementara hanya sebanyak 234 media yang sesuai syarat UU Pers. Jadi lebih banyak media yang berpotensi menyebarkan berita hoax, ataupun rawan pemberitaan paham radikalisme dan terorisme,” tegasnya. (rg-60)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.