Gara-gara Suami Sering ‘Jajan’, 12 Ibu Rumah Tangga Tertular AIDS

ilustrasi (Anwart/RG)

RadarGorontalo.com – Seorang istri wajib tahu, tentang lingkungan pergaulan hingga aktifitas sang suami di luar. Bukan karena posesif, tapi untuk menjaga diri sendiri dan anak jangan sampai tertular penyakit mematikan. Saat ini, data Komisi Pemberantasan Aids (KPA) Kota Gorontalo menyebutkan, sekitar 12 ibu rumah tangga (IRT) dinyatakan positif mengidap Aids. Penyebabnya, karena sang suami memiliki aktifitas seks yang tidak sehat di luar rumah.

Data yang diperoleh Radar Gorontalo, khusus di ibu kota ditemui sedikitnya ada 136 kasus HIV/Aids. Dan sekitar 10 persen diantaranya, penderitanya adalah ibu rumah tangga. Dan penularannya rata-rata berasal dari sang suami yang memiliki kebiasaan buruk jajan seks diluar rumah. Baik itu yang sering menggunakan jasa wanita pekerja seks komersil, gonta-ganti pasangan tidak sah, hingga perilaku seks menyimpang alias Gay. Ironisnya, beberapa diantara IRT yang tertular itu, dalam kondisi hamil dan berpotensi menularkannya kepada sang bayi.

Tak hanya IRT yang sudah lama menikah yang tertular, ada juga IRT yang baru tertular usai menikah. Biasanya si pria, sebelum menikah aktif gonta-ganti pasangan. Bahkan, ada yang sudah pernah melakukan seks, dibawah umur. Tapi ada juga, IRT yang tertular, setelah sang suami sudah berulang kali menikah. Ini menjadi peringatan, bahwa mengecek kesehatan calon suami sangat atau istri penting, sebelum memutuskan untuk menikah.

“Data yang kami miliki dari hasil tes kesehatan yang dilakukan setiap ibu hamil di unit pelayanan kesahatan, yang tersebar di Kota Gorontalo.Ketika ditemukan mengidap penyakit HIV/AIDS, secara langsung kami mewawancarai mereka. Dan langsung menanyakan pada suami mereka, apakah pernah jajanan seks, atau tidak. Hasilnya, rata-rata suami mereka mengakui perbuatan mereka. Dimana sering jajanan seks dengan wanita panggilan dan penghibur,” jelas Yuyun seorang petugas dari KPA Kota Gorontalo.

Resiko besar dampak dari penyakit membahayakan ini, katanya. Bisa berdampak pada kesehatan janin, bahkan mengancam nyawa ibu hamil yang tengah mengandung. “Ketika melahirkan, besar kemungkinan anaknya prematur dan kesehatannya terganggu,” ungkapnya. “Upaya yang kami lakukan sosialisasi baik ke sekolah-sekolah, dan lingkungan masyarakat. Dan membuka peluang bagi masyarakat untuk berobat,” timpalnya.(rg-62)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.