oleh

Idah Syahidah – Syarief Mbuinga, Sulit Terbendung

-Politik-406 Pengunjung

Gorontalo (RGOL) – Idah Syahidah – Syarief Mbuinga nampaknya sulit terbendung untuk mendapatkan rekomendasi Golkar. Kerja-kerja politik yang dilakukan dua kader Golkar ini sungguh luar biasa, tak ada seharipun tanpa bertemu rakyat, baik itu di perkotaan maupun di desa-desa, tak heran kalau mereka dijuluki sebagai pasukan SARKODES (Sapurata Kota Desa).

Dua kader Golkar ini adalah yang persiapkan Golkar untuk maju di Pilgub bersama 3 nama lainnya, seperti Marten Taha, Roem Kono dan Tonny Uloli. Bila berdasarkan hasil survei, maka bisa dipastikan Idah Syahidah yang akan mendapatkan tiket dari Golkar untuk ke Pilgub.

Dulu saja hasil surveinya paling tinggi ketika akan maju di Pileg, inilah yang membuat Rusli berani melepas Idah ke DPR RI. Nah untuk ke Pilgub, meski survey Idah tinggi, namun sang arsitek yakni Rusli Habibie nampaknya tidak hanya mengandalkan survei Idah yang tinggi, tetapi juga sangat mempertimbangkan siapa pendamping indah.

Tentu saja pendamping Idah bukan sembarangan, dia haruslah sosok yang punya basis massa yang kuat dan ini juga akan dilihat dari hasil survei. Kalau memang Golkar-Golkat kuat, apakah Idah-Syarief atau Syarief-Idah, atau Idah-Marten, maka pasti Golkar akan melaksanakan rekomendasi hasil survei.

Pilgub kali ini akan sangat di dikte oleh faktor wilayah, dan aroma sentimen primordial mulai semerbak. Jadi tak ada masalah kalau pasangan Cagub dari satu partai asalkan kursi mereka di DPRD memenuhi syarat untuk mencalonkan sendiri tanpa harus koalisi. Memang pasangan Idah-Syarief ini bisa sangat kuat.

Keduanya punya kekuatan amunisi yang besar, mereka juga punya basis massa yang kuat, tinggal tergantung bagaimana Rusli meramunya. hanya saja yang menjadi masalah kalau terjadi koalisibdi Pilpres antara Golkar-Nasdem, jelas di Pilgub harus terjadi koalisi Golkar-Nasdem, dan pasti Nasdem akan menyodorkan kadernya, karena mereka juga punya sederet nama, seperti Hamim Pou dan Rama Datau.

Sementara itu, partai-partai lain juga punya kader, PPP misalnya, mereka punya Nelson yang di dukung oleh daerah yang punya jumlah pemilih sangat besar. Sementara itu, PDIP juga tak mau jadi penggembira, partai pemenang kedua di Provinsi Gorontalo ini juga akan mempersiapkan kadernya sendiri untuk maju di Pilgub, apakah Cagub atau Cawagub.

Nah, kalau terjadi koalisi PDIP-PPP di Pilpres dan koalisi itu kemudian terjadi juga di Pilgub, maka pasti akan sangat seru. Lalu bagaimana kalau koalisi gemuk terjadi di Pilpres? Partai-Partai Istana akan bahu membahu di Pilpres, maka di Pilgub Gorontalo bisa-bisa lawan Kotak Kosong.

Bayangkan saja, Golkar, PDIP, PPP, Nasdem, dan PAN berkoalisi, siapa yang berani melawan mereka. Soal siapa Cagub dan siapa Cawagubnya tinggal tergantung kompromi-kompromi. Memang tak gampang, tetapi dalam politik tak ada yang tak terselesaikan. (awal)


Komentar