®Reporter : RAGORO

RGOL.ID (GORONTALO) – Minggu pagi kemarin penggagas Kopi Lolango ini mampir di sebuah rumah kopi samping kiri Pasar Beringin, Ketua Komisi 1 Deprov ini langsung dikerumuni warga sekitar.

Mantan Sekda Kota ini sangat prihatin melihat kondisi Pasar Beringin, tidak hanya itu dia juga terpanggil untuk mengembalikan taplak kuda yang sudah sangat menuah dari Biawu.

Ada pesan dari orang orang tua dulu, berdaganglah di kawasan dimana banyak telapak kuda. Itu artinya dimana banyak Bendy di situ perekonomian berputar dengan kencang, dan Biawu dulunya adalah pusat perekonomian.

Tetapi sekarang roda perekonomian sudah bergerak ke Utara. Walikota Medy Botutihe punya mimpi besar mengembalikan Biawu sebagai kawasan perdagangan, maka dia meminta AW Talib sebagai Sekda untuk membebaskan beberapa rumah.

Karena dia ingin membangun pasar terapung, seperti zaman dulu, dimana setiap hari banyak pedagang ikan dengan sampannya, baik dari arah danau maupun dari arah laut berjualan di atas sungai Bolango yang ada di Biawu.

Namun mimpi itu belum terwujud, AW Talib kemudian cerita sedikit sejarah Kota Gorontalo, dulu kata dia Ibu Kota ada di Dungingi, lalu kemudian pindah ke sini, jadi kata dia dulu pusat ekonomi itu ada di Biawu.

Nah ada 3 yang harus dilakukan untuk mengembalikan perekonomian Biawu agar bergairah lagi.

Pertama membangun akses jalan ke ke Pasar Beringin, atau mendekatkan Pasar Beringi ke Jembatan Biawu, di sana sudah ada lahan yang sudah dibebaskan Pemkot di era Medy Botutihe.

Berikutnya Masjid Hunto. Masjid bersejarah ini harus dipelihara dan dikembangkan, makanya AW Talib menggagas untuk menjadika jalan masuk dari arah Pegadaian sebagai bagian dari halaman depan Masjid Hunto.

” kita akan bangun fasilitas disitu sehingga menjadi area yang cantik dan menarik untuk mendekatkan anak anak ke Masjid.

Lalu yang ketiga, menata kembali bantaran sungai, ini juga menjadi mimpi dari Medy Botutihe.

Perlu diketahui Walikota yang satu ini sempat kuliah di Belgia, karna dia punya mimpi menjadi Kota Gorontalo seperti salah satu kota di sana yang semua rumah menghadap sungai, dan itu sudah dia lakukan, namun masa jabatannya keburu berakhir, tetapi pembangunan bantaran sungai itu dilanjutkan oleh Kementrian, namun kata AW Talib perlu ditata, mestinya program ini bisa merubah budaya warga kota yang menjadikan sungai sebagai belakang rumah.

Itulah sebabnya sungai kita kotor dan menjadi jamban terpanjang. Bahkan sekarang sudah penuh dengan enceng gondok.

Dari diskusi kecil dengan warga sekitar, nampak sekali kalau mereka sangat ingin ada perubahan di Biawu, terutama Pasar Beringin agar bisa berfungsi dengan baik, termasuk bantaran sungai agar bisa menjadi tempat usaha.

Untuk semua itu kata AW Talib, Insya Allah Walikota baru nanti bisa saling bahu membahu dengan Aleg Deprov nanti.

” Insya Allah kalau saya masih di Deprov maka ini akan menjadi janji saya pada rakyat Kota, terutama Biawu.” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.