RadarGorontalo.com – Kendati informasi mengenai jumlah warga Gorontalo yang akan ikut aksi bela Islam 2 Desember mendatang, jumlahnya cukup besar, tapi kondisi Gorontalo tetap aman. Tidak ada pergerakan pengamanan yang berlebihan. Bahkan, aparat keamanan baik TNI maupun Polri, sebatas imbauan, agar warga tak terprovokasi.

Sempat tersiar kabar, ada perintah pencekalan di bandara, terhadap massa yang akan berangkat ke Jakarta, untuk ikut aksi demo 2-12 itu. Kabid Humas Polda Gorontalo AKBP M. Nimitch saat dikonfirmasi kebenaran pencekalan itu, langsung membantah. Ditegaskannya, tidak ada instruksi dari pimpinan soal pencekalan. “Kami tidak melakukan pencekalan, hanya memberikan imbauan pada masyarakat agar tidak mengikuti demonstrasi itu,” ungkap Kabid Humas, via selular, Minggu (27/11) malam.

Ditempat terpisah, Komandan Satuan Brigade Mobil (Brimob) Polda Gorontalo Kombes Pol Komarudin saat dimintai tanggapannya menuturkan, pihaknya tidak mengirimkan pasukan khusus untuk turut serta mengamankan demonstrasi. “Brimob hanya di Gorontalo, fokus pengamanan di Gorontalo sesuai instruksi Kapolda Gorontalo,” ujarnya, Minggu (27/11) malam.

Soal penanganan masyarakat yang akan ikut aksi 2-12, kata perwira tiga melati itu mengatakan, bahwa persoalan seperti itu tidak masuk dalam tupoksi kesatuannya, tapi diserahkan ke Polres jajaran yang ada di masing-masing wilayah hukum Gorontalo. “Maaf ya, itu bukan kewenangan Brimob, tapi itu merupakan tugas dari Polres jajaran yang ada di masing-masing wilayah hukum Gorontalo,” timpalnya lagi.

Sementara itu, beredar surat Maklumat Kapolda Gorontalo Brijen Pol Drs. Rachmad Fudail, MH tertanggal 25 November, terkait penyampaian pendapat dimuka umum. Ada empat point penting dalam maklumat itu. Diantaranya, penyampaian pendapat di muka umum harus mematuhi ketentuan dalam undang-undang RI no 9 tahun 1998. Kedua penyampaian pendapat dimuka umum, dilarang membawa senjata tajam, senjata pemukul atau benda-benda membahayakan. Dilarang menganggu ketertiban umum, merusak fasilitas hingga menebar provokasi bersifat anarkis atau menjurus ke SARA. Dan terakhir, penyampaian pendapat dimuka umum dilarang melakukan kejahatan terhadap negara berupa makar. (rg-62)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.