Kota Gorontalo Darurat TBC, Lebih dari 500 Penderita

ilustrasi (Anwart/RG)

RadarGorontalo.com – Siapa sangka, percikan dahak dari seseorang, bisa menyebabkan kematian bagi orang lain. Penyakit dalam bahasa ilmia Tuberkulosis ini, di tingkat dunia tercatat menduduki peringkat ke dua setelah jantung. Memang benar di Gorontalo khususnya Kota, kasus penyakit TB atau TBC ini belum menelan korban jiwa. Tapi tercatat sudah menyerang sekitar 520 penderita, dan positif mengidap atau akar dari penyakit TBC ini, berjumlah 420 orang di Kota Gorontalo. Juga sedang menjalani perawatan secara medis, di sejumlah Rumah Sakit di Kota Gorontalo.

Dari tahun ke tahun angka kasus penyebaran bakteri hidup dari paru-paru ini, terus meningkat. Itu tandanya persoalan penting, bagi instansi terkait daerah. Apalagi selama ini penyebaran penyakit TBC, rata-rata tak diketahui oleh masyarakat atau penderitanya. Kendati gejala-gejala penularannya jelas ada disekitaran aktivitas masyarakat, seperti batuk berdahak mengeluarkan lendir. “Solusinya, kita harus melakukan sistem survey di lingkungan masyarakat, untuk mengetahui penularan penyakit TBC. Kemudian memberikan pemahaman pada warga, baik itu melalui sosialisasi dan Focus Group Discussion, seperti yang dilakukan Puskesmas Kota Selatan,” ujar Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dikes Kota Gorontalo Hi. Abd Haris Skm. M.Kes, Rabu (14/03) .

Di skala Kota saja, penyakit ini sudah menyerang 520 orang, lantas berapakah jumlah warga positif menderita penyakit TB paru ini, di setiap kelurahan. Dari sampel data yang diterima Radar Gorontalo di satu kelurahan, yakni Kelurahan Limba B pada tahun 2017 tercatat sebanyak 72 orang positif menderita penyakit TBC. Posisi triwulan satu tahun ini pada bulan berjalan termasuk Bulan Maret, sudah 24 orang yang positif. Jadi jika dijumlahkan, total pengidap penyakit mematikan yang ada di Kelurahan Limba B, sebanyak 86 orang sampai dengan saat. Dan masih menjelani perawatan intensif di Puskesmas Kecamatan Kota Selatan. “Mengingat penyakit ini menyerang semua kalangan, dan pada umumnya oran dewasa. Pencegahan penyebaran penyakit ini kami lakukan sedini mungkin. Dimana ketika mendapatkan laporan adanya warga menderita penyakit tersebut, kami langsung datangi dan obati. Pengobatan itu, sudah termasuk lingkungan keluarganya, agar tidak tertular penyakit yang sama,” jelas Kepala Puskes Kota Selatan dr. Grace Tumewu.(rg-62)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.