oleh

Lebih Baik Mati Dari Pada Malu

-Politik-2.195 Pengunjung

GORONTALO (RGOL.ID) – Jika sudah masuk dalam arena pertarungan, pantang bagi RH untuk menelan kekalahan. Falsafah hidupnya tak mau malu dan dipermalukan. Prinsip hidupnya itulah yang telah mengantarkannya ke puncak karirnya baik itu sebagai pengusaha maupun sebagai politisi.

Urusan malu ini adalah pantangan besar dalam hal apapun. Sebagai seorang Gubernur, RH tak mau berbuat hal-hal yang memalukan, demikian pula sebagai Ketua Partai. “penu demoputi tulalo bo dila mooputi baya”, falsafah Gorontalo ini selalu dipegang teguh Rusli. Lebih baik berputih tulang dari pada menanggung malu, itulah arti dari falsafah Gorontalo di atas.

Karena tak mau malu dan dipermalukan, maka dia tak mau sembarangan dalam mengambil keputusan dalam hal apapun. Kemarin ketika berbincang-bincang dengan Ishak Liputo, dia sangat yakin sahabatnya itu tidak akan pernah memutuskan sesuatu secara emosional. Lihat saja ketika dia lebih memilih maju di Pilbup Gorut ketimbang maju di Pilwako.

Semua itu karena dia punya hitung-hitungan yang sangat cermat, meskipun tantangannya maju di Gorut sangatlah berat, tetapi dia sudah mengambil keputusan yang sangat tepat. Begitu juga ketika dia maju di Pilgub, bayangkan kata Ishak, ketika itu, masa jabatannya sebagai Bupati Gorut baru 4 tahun dan dia pasti menang lagi pada Pilbup berikutnya, tetapi dia nekat maju di Pilgub.

Dalam perhitungan kami dia sulit memenangkan pertarungan melawan GI – TU, tetapi sekali lagi, Rusli sudah menghitung dengan cermat. Nah, kalau survei Idah bagus dan mendapatkan restu RH, itu artinya RH sudah memperhitungkan dengan sangat matang, dia tak mungkin melepas Ibu Idah ke Pilgub tanpa ada perhitungan yang matang. Itu artinya kalau Ibu Idah sudah masuk ke arena Pilgub, maka Falsafah Gorontalo itu akan muncul, “penu demoputi tulalo bo dila mooputi baya”. (awal-46)


Komentar