Main Gusur Pedagang, Pemkot Gorontalo Dinilai Ingkar Janji

 

Wakil Walikota Gorontalo dr. Budi Doku, ketika menerima dua orang pedagang di komplek terminal pasar tua Kota Gorontalo, yang mewakili pedagang lain.

RadarGorontalo.com – Pemerintah Kota Gorontalo (Pemkot) dalam hal ini Dinas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Gorontalo, dinilai ingkar janji pada delapan pedagang yang ada di komplek pertokoan dekat pasar tua Kota Gorontalo. Karena main gusur lokasi dagang mereka, padahal diketahui mereka sudah dibuatkan surat pernyataan resmi oleh instansi yang dinahkodai Ir. Abubakar Luwiti itu. Yang menyebutkan bahwa, sejumlah pedagang itu siap direlokasi, jika pembanguan pasar Beringin Biawu sudah selesai. Nah, karena tidak terima dengan sikap petugas Dinas Satpol PP tersebut, dua diantara delapan pedagang yang mewakili pedagang lain, mengadukan hal itu pada Wakil Walikota Gorontalo dr. Budi Doku Rabu (12/04). Untuk meminta keadilan pada Pemerintah Kota Gorontalo, terkait dengan hal tersebut.

Meski dipadati kunjungan tamu daerah, Budi Doku langsung menyambut kehadiran dua masyarakatnya, yang membutuhkan perhatian khusus dari Pemerintah Kota Gorontalo. Bahkan suguhan sejumlah buah-buahan yang ditawarkan Budi Doku, menjadi bukti bahwah betapa dirinya sangat peduli dengan masyarakatnya. “Mereka adalah masyarakat kita, kalau bukan mereka saya dan pak Wali tidak mungkin duduk disini. Mereka harus kita lindungi, dan itu bukan perkataan saya, tapi undang-undang,” ujar Budi, sembari menawarkan buah-buahan pada dua warganya.

Berkaitan dengan pengaduan mereka, Budi menegaskan, tidak ada satupun dari mereka bisa direlokasi dari tempat itu. Asalannya, selain mereka mengantongi surat keterangan resmi, pembangunan pasar beringin untuk menempatkan mereka saja belum selesai. Kecuali kata Budi, Pemerintah Kota Gorontalo harus menyediakan tempat dagang untuk mereka, agar mereka bisa di relokasi dari tempat sebelumnya tersebut. “Saya akan membuat surat pernyataan untuk mereka, agar mereka tetap berdagang dilokasi itu. Kasihan mereka, mereka itu berdagang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika kita gusur mereka, bagaimana dengan kehidupan mereka. Ini namanya kita menghalangi rezki mereka,” tutur Budi Doku.

Sementara itu Harino Amlani, salah satu pedagang yang diwawancari media ini mengakui, selama berdagang di lokasi itu pihaknya juga setiap hari membayar retribusi sebesar Rp 3000. Bahkan ketika usai berdagang, lokasi tersebut mereka tinggalkan dalam kondisi bersih tanpa ada sampah yang bertebaran. “Pendapatan kami dari berdagang, tidak seberapa dan belum bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari kami. Lantas, bagaiman jika kami harus digusur, mau makan apalagi kami. Dilokasi itu kami sering membayar retribusi pada petugas, meninggalkan tempat dagang itu saja, dalam keadaan bersih,” ungkapnya.(rg-62)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.