oleh

Marten Lunasi Utang Terminal Dungingi

GORONTALO (RAGORO) – Ketika terpilih jadi Walikota pada periode pertama, hal pertama yang dihadapi Marten Taha adalah beban pinjaman Terminal Dungingi. Betapa tidak, setiap tahun dia harus membayar ke PIP sebesar kurang lebih Rp. 12 miliar, sementara, hasil dari terminal itu hanya sedikit. Tetapi Marten mengambil tanggung jawab itu. Lalu dari tahun pertama dia menjabat, langsung mulai menyicil dan begitu masa jabatannya berakhir, utang Pemkot pun selesai. “pinjaman kita pada PIP Rp32 miliar, namun yang harus kita bayarkan Rp59 miliar,” kata Marten kemarin.

Memang berat juga, tetapi utang itu harus dibayar. Karena yang berhutang adalah Pemkot, jadi siapapun yang jadi Walikota berikutnya, dia harus membayar utang pada PIP. “sebenarnya sayang juga dana Rp12 miliar itu hanya untuk membayar utang terminal, mending digunakan untuk membiayai hal lain yang lebih dibutuhkan rakyat, tetapi kita tak bisa menghindar dari kewajiban itu,” katanya. Celakanya kata Walikota, sudah tak dapat apa-apa dari Terminal itu, kini statusnya jadi milik Kementrian Perhubungan, karena sesuai Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 132 Tahun 2015, dimana terminal tipe A, pengelolaannya ditangani langsung oleh Kementerian. “saya sudah meminta konpensasi ke Kementrian Perhubungan, namun hasilnya hanya bus sekolah,” katanya. Padahal yang diharapkan dari Kementerian adalah dalam bentuk proyek, misalnya jalan. Istilah orang Gorontalo, Pemkot kalah banyak di terminal Dungingi ini. Bayangkan 5 tahun menyicil, setelah berhasil melunasi utang Rp59 miliar, tiba-tiba muncul peraturan pemerintah soal terminal tipe A yang pengelolaannya harus diambil alih Kementerian, dan Pemkot tidak bisa menikmati hasil dari terminal tersebut. (rg-46)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.