oleh

PATRIOT

Oleh: Prof. Fory Armin Naway

Guru Besar UNG dan Ketua TP PKK Kabupaten Gorontalo

MASIH dalam nuansa peringatan Hari Patriotik 23 Januari, semangat patriotisme yang diwariskan oleh Pahlawan Nasional Nani Wartabone beserta pejuang Gorontalo lainnya ketika masih dalam belenggu penjajah, masih sangat relevan untuk dihayati oleh siapapun warga Gorontalo.

Dengan asumsi lain, bahwa dalam konteks kekinian dan masa depan, semangat patriotik atau jiwa patriotisme dapat dipandang dan dimaknai secara lebih luas dan mendalam. Baik dalam ruang lingkup personaliti maupun secara kelembagaan di masing-masing institusi. Yang terpenting lagi adalah penghayatan generasi muda sebagai penerus cita-cita dan masa depan bangsa, khususnya Gorontalo.

Secara terminologi, jiwa patriotisme berarti kecintaan terhadap bangsa dan negara. Cinta dapat dipandang sebagai sumber kekuatan, sumber energi dan pemantik lahirnya semangat untuk menghalau berbagai tantangan, mengubahnya menjadi sebuah peluang yang terus berproses, hingga bangsa ini terus maju dan berkembang.

Jiwa patriot sebagai sebuah cinta, maka patriot adalah sikap untuk senantiasa berpihak pada kebenaran, kejujuran, kerja keras dan mencintai kepada sesama.

Dalam ranah yang lebih mendalam lagi, patriot adalah bagian dari upaya yang konsisten untuk terus membuka ruang ekspektasi pada kejujuran dan keluhuran budi.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mendefinisikan patriotisme sebagai sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya.

Di sisi yang lain, menurut Buku Jiwa Patriotisme  karya Sri Kartini (2020), patriotisme berasal dari kata “patriot” dan “isme”, artinya sifat kepahlawanan atau jiwa pahlawan.

Dari pengertian di atas, maka sikap patriot, patriotisme dapat diaktualisasikan secara luas, tidak hanya sebatas pada panggilan untuk maju ke Medan perang untuk melawan musuh, tapi juga menjadi seorang patriot bagi keluarga, menjadi patriot bagi kaum marginal, menjadi patriot bagi kemanusiaan dan menjadi dalam bidang apapun yang berbuah pada kebenaran, kebaikan dan amal shaleh. Sikap patriot berarti selalu berpikir untuk orang lain, untuk orang banyak atau bukan semata-mata untuk diri sendiri.

Patriot juga berarti mampu mengendalikan perbuatan-perbuatan destruktif yang dapat merendahkan derajat kemanusiaan yang disandang oleh seseorang. Patriot dengan begitu, sangat terkait erat dengan sikap, performance diri, pembawaan dan tingkah laku, kearifan dan keluhuran budi lainnya.

Karena sesungguhnya, patriot adalah  upaya maksimal untuk mengelominir “keakuan”, yang selalu berorientasi pada diri sendiri. Patriot juga dapat dimaknai sebagai kekuatan jiwa untuk mengenyahkan bisikan-bisikan negatif, melainkan menggantikannya dengan bisikan dan aura positif.

Bisikan untuk selalu memandang rendah orang lain, menjatuhkan kehormatan orang lain, menjadi musuh dalam selimut, selalu menganggap diri sendiri yang paling benar, selalu mencari celah kesalahan orang lain dan sikap dan tindakan keakuan yang berlebihan, semuanya itu jauh dari jiwa patriotisme.

Oleh karena itu, semangat jiwa patriotisme yang diwariskan melalui semamgat juang hari Patriotik 23 Januari memiliki dan dapat diterjemahkan secara luas ke dalam konteks dan aspeg-aspek kehidupan berbangsa, bernegara, bermasyarakat, bertetangga bahkan dalam hubungan antar personal. Jiwa patriot dalam ranah kearifan lokal Gorontalo dapat dimaknai sebagai “Lotolo” atau kekuatan jiwa dan raga untuk selalu menghadirkan nilai-nilai kebaikan di manapun dan kapanpun.

Patriotisme dengan demikian mengandung arti, definisi dan pengertian yang universal, baik dalam pendekatan agama, kebangsaan bahkan dalam lembaga keluarga sekalipun, jiwa patriot itu tetap relevan dan penting. Jika direlevansikan dengan nilai-nilai ajaran Islam, jiwa patriot memiliki makna yang sama dengan istilah takwa, yakni ikhlas, sabar dan istiqomah mengerjakan segala perintah Allah SWT dan meninggalkan segala larangan-laranganNya.

Patriot sebagai bentuk dari manifestasi kecintaan terhadap bangsa dan negara, jiwa kepahlawanan yang rela mengorbankan jiwa dan raga, maka tidak ada cara lain untuk terus memantik jiwa patriot itu terus hadir dan melekat dalam benak siapapun yang siap diaktualisasikan, diterjemahkan dan diaplikasikan ke dalam ranah interaksi keseharian dengan sesama manusia dengan sesama makhluk lainnya.

Dengan demikian, hari patriotik 23 Januari terus membekas dan terpatri hingga memiliki arti dan makna yang sangat fundamental yang real dan konkrit di tengah masyarakat. Bahkan boleh disebut, upaya memupuk jiwa patriot merupakan alternatif dan cara yang lain untuk memperbaiki “hati manusia” yang setiap saat selalu berubah-ubah dan tiada menentu.

Manusia sebagai makhluk yang dianugerahi akal, namun sering alpa, lupa dan khilaf selalu ada-ada saja nilai-nilai yang terus  hadir sebagai “pengingat” agar setiap orang  selalu mawas diri, berhati-hati dan arif dalam bersikap, bertindak, bertutur dan berperilaku.

Sampai kapan pun dan di manapun, sikap, tindak-tanduk, cara berbicara, berkomunikasi dan berinteraksi merupakan obyek penilaian dan menjadi cerminan paling hakiki setiap orang. Dalam perspektif masyarakat Gorontalo, nama, status dan gelar sebagai  “Tanggulo” tidaklah penting melainkan “Tilanggulo” atau nama baik.

Jiwa patriot dengan demikian, dalam ranah Gorontalo dapat diterjemahkan sebagai kekuatan diri,.benteng diri menjaga “tilanggulo” agar tidak mendapatkan sanksi sosial berupa “Leeto” atau aib yang selalu diingat hingga turun-temurun.

Olehnya tidak ada alasan apapun dalam berbuat kebaikan dan tidak ada alasan yang membenarkan untuk berbuat dzalim kepada orang lain. “Penu demo’o dulopo asali dja ‘odulopa, lumadu Gorontalo itulah yang menjadi spirit lahirnya jiwa patriot di kalangan masyarakat sejak dulu sehingga tidak mudah melakukan tindakan-tindakan destruktif apalagi menganiaya orang lain, baik dalam bentuk fisik dan non fisik. ###


Jangan Lewatkan

Komentar