oleh

Pengaruh Kadar vitamin C terhadap suhu dan tempat penyimpanan

-Tulisan Pembaca-221 Pengunjung
Nurain Suleman

Penulis : Nurain Suleman
Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
Tekhnologi Laboratorium Medis

Makanan merupakan hal yang sangat diperlukan untuk kehidupan suatu makhluk hidup, oleh karena itu kualitas dan makanan yang dikonsumsi haruslah di perhatikan.

Makanan yang berkualitas yang dimkasud disini adalah jumlah makanan yang di konsumsi tidak boleh kurang ataupun berlebih sedangkan makanan yang berkualitas dimaksud adalah makanan yang mengandung gizi, protein, lemak, karbohidrat vitamin, mineral, dan masih banyak lagi zat yang berguna bagi kesehatan tubuh kita. Zat gizi, vitamin dan mineral banyak di kandung oleh buah dan sayuran.

Buah adalah bahan pangan yang sangat mudah ditemukan di berbagai tempat, namun masih banyak orang yang enggan untuk mengkonsumsi nya dengan berbagai alasan.

Padahal kandungan vitamin dan mineral nya sangatlah tinggi dan bervariasi, selain itu buah juga mengandung serat yang dapat memperlancar pencernaan (Munawwarah, 2017). Buah dengan bermacam warna dan jenis dapat saling melengkapi kebutuhan zat gizi yang diperlukan oleh tubuh kita.

Apabila tubuh kekurangan vitamin dan mineral, maka dapat menyebkan berbagai masalah kesehatan. Rata-rata dalam kondisi sehat, orang dewasa hanya membutuhkan sekitar 90 mg vitamin C per harinya (setara dengan 2 buah jeruk).

Namun, masih ada banyak orang yang belum memahami gejala yang di alami oleh tubuh sebagai pertanda bahwa kita tengah mengalami kekurangan vitamin dan mineral tertentu sehingga telambat untuk diketahui dan mengakibatkan tingkat keparahan suatu penyakit meningkat drastis (Almatsier, 2011).

Vitamin c dapat ditemukan hampir disemua buah-buahan, terutama buah jeruk yang segar atau sering disebut dengan fresh food vitamin. Kandungan vitamin c yang tinggi dapat ditemukan di dalam buah yang masih mentah. Vitamin c dalam jeruk terdapat dalam sari buah, daging, kulit, terutama di bagian falvedo atau lapisan kulit terluar pada buah.

Berdasarkan penelitian yang telah di lakukan oleh Raghu Krishnamoorthy, diketahui bahwa kandungan vitamin c biasanya berkurang jika buah jeruk semakin tua dan terlalu lama disimpan pada suhu yang cukup tinggi. Pada penelitian ini, sampel jeruk di diamkan selama empat hari pada pada tiga suhu penyimpanan yang berbeda, seperti dingin, suhu ruangan dan dipanaskan.

Kemudian setelah empat hari diketahui bahwa jeruk yang disimpan pada suhu yang dipanaskan telah menunjukan pola pembusukkan atau telah terjadi proses peluruhan kadar vitamin c nya (Graph, 2007). Seperti yang telah di ketahui bahwa senyawa vitamin c merupakan senyawa yang sangat mudah teroksidasi dan tidak stabil pada suhu tinggi.

Kandungan vitamin c dalam buah jeruk akan meluruh atau terdegradasi dengan sangat lambat pada suhu penyimpanan yang dingin. Oleh karena itu suhu dinginlah yang sangat tepat digunakan sebagai tempat penyimpanan buah jeruk.

Secara umum, sifat degradasi atau peluruhan kandungan vitamin c pada buah jeruk terjadi akibat pengaruh dari suhu atau temperature lingkungan yang berbeda serta lamanya proses penyimpanan.

Tips penyimpanan untuk buah agar kandungan vitamin C yang terkandung dalam buah tidak rusak yaitu: menghindari buah dari paparan sinar matahari langsung, menyimpan buah di tempat yang kedap udara atau terlapisi dengan plastic wrap dan masukan kedalam kulkas, serta mencuci bersih buah dan tidak melakukan perendaman terlalu lama (World Development Report, WDR 2010)

Untuk mengetahui kandungan atau konsentrasi vitamin C dalam buah, standar vitamin c digunakan untuk membakukan larutan yodium yang dibuat dengan mencampurkan yodium dengan kalium iodide.

Uji titrasi redoks menggunakan yodium mempunyai prinsip saat yodium ditambahkan selama titrasi, asam askorbat dioksidasi menjadi asam dehidroaskorbat, sedangkan yodium direduksi menjadi ion iodide, yodium yang terbentuk segera direduksi menjadi iodida selama ada asam askorbat.

Setelah semua asam askorbat teroksidasi kelebihan yodium bebas bereaksi dengan indikator pati membentuk kompleks pati-iodium biru-hitam (USDA Nutrient database, 1998)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.