oleh

Penutupan Lokakarya KMB-KM

-Pendidikan-219 Pengunjung

KAMPUS (RGOL.ID) – Lokakarya Kurikulum Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (KMB-KM), Perangkat Pembelajaran dan Program Pembinaan Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK), Jum’at kemarin (5/3), resmi ditutup.

Penutupan lokakarya ini dihadiri oleh pimpinan Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UM-Go) dan seluruh dosen yang merupakan peserta lokakarya, di gedung serbaguna David Bobihue Akieb.

Sesuai pantauan awak media, ada beberapa hal penting yang disampaikan dalam lakokarya KMB-KM ini.

Mulai dari tahap pembelajaran Kampus Merdeka yang memfasilitasi hak mahasiswa belajar 3 semester di lintas program studi (Prodi) di universitas sendiri, di prodi yang sejenis dan lintas prodi di perguruan tinggi lain, serta pembelajaran mahasiswa di masyarakat dan industri.

Seperti diketahui, pengimplentasian Merdeka Belajar-Kampus Merdeka merupakan bentuk respon positif dalam menyikapi ekspektasi bagaimana pembelajaran di abad 21 dalam era revolusi industri.

Karena program Merdeka Belajar Kampus Merdeka, dapat meningkatkan kemampuan komunikatif, terasahnya critical thinking, bertambahnya multi skills mahasiswa dengan berfokus pada literasi technology, literasi manusia dan literasi data yang nantinya akan menghasilkan lulusan yang ulet, berjiwa competitiveness, unggul dan berdaya saing.

Program ini juga merupakan respon kontrak kinerja rektor-rektor se Indonesia dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, dengan mengacu pada tercapainya indikator kinerja utama dan indikator kinerja perguruan tinggi.

Sebelumnya, Rektor UM-Go, Prof. Abd. Kadim Masaong, M.Pd pada pembukaan lokakarya sempat menjelaskan, ada empat (4) hal yang terpenting yang perlu diperhatikan dalam penyusunan kurikulum.

Pertama, learning outcome (LO). “Kalau dia sarjana, mau jadi apa nantinya. Itu yang harus dicapai dan harus dirumuskan dengan baik. Karena LO itu membicarakan masa depan,” ungkap Prof. Kadim.

Bagi rektor, dosen bertanggungjawab penuh atas implementasi kurikulum ini. “Jangan menganggap tanggungjawab kurikulum itu ada pada prodi, sehingga dosen hanya asal-asalan mengajar.

Prodi hanya mendesain kurikulum dalam bentuk strukturnya, sementara dosen adalah yang mendesain kurikulum itu sampai ke mahasiswa,” terangnya.

Kedua, capaian perkuliahan atau tujuan mata kuliah. “Dalam setiap pertemuan, saya sering mengatakan, bahwa kita ini adalah arsitek masa depan anak.


Komentar