abd karim aljufrie

Pertama Kali KKP di Bulan Ramadhan, Rolly : Ini Sejarah bagi UG

Image
Ketua Dewan Pengurus YPDLP Gorontalo, Dr. Moh. Rolly Paramata, SE, MM saat memberikan materi pembekalan kepada mahasiswa peserta KKP. (Foto : dok)

KAMPUS (RGOL.ID) – Kuliah Kerja Pengabdian (KKP) Universitas Gorontalo (KKP-UG) gelombang II angkatan XXIII resmi dimulai tahapan pelaksanaannya, Sabtu (8/4).

Sebanyak 69 mahasiswa peserta telah mengikuti pembekalan dan pelepasan. Dan Senin (10/4) kemarin, mereka telah memulai dengan observasi lapangan. Dijadwalkan observasi lapangan akan dilakukan selama tiga hari hingga Rabu (12/4) besok.

Di edisi ke- 23 ini, KKP terasa berbeda. Pasalnya, untuk pertama kali, dilaksanakan di momentum bulan suci Ramadhan.

Sebagaimana disampaikan Ketua Dewan Pengurus Yayasan Pendidikan Duluwo Limo Lo Pohala’a (YPDLP) Gorontalo, Dr. Moh. Rolly Paramata, SE, MM saat hadir memberikan pembekalan.

“Sejarah terukir di Universitas Gorontalo, saat orang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, aktivitas KKP jalan. Ini baru pertama kali. Seingat saya sejak STIE sampai dengan UG, KKP itu tidak ada di bulan puasa,” ungkap Rolly.

Dan kebijakan yang diambil ini pun, lanjut kata Rolly, karena kebijakan belas kasihan dan itu perlu dipahami.

“Kenapa saya katakan belas kasihan. Sebenarnya bulan Ramadhan tidak bisa diganggu dengan kegiatan-kegiatan seperti ini, kita berusaha menghindarinya. Dan dari sisi operasional, dari kaca mata yayasan, terus terang, itu sangat merugikan,” jelasnya.

Apalagi berdasarkan data dari wakil rektor bidang keuangan, ternyata kata Rolly, dari 69 mahasiswa peserta KKP, baru 20 orang yang telah bayar semester ini dan yang 30 orang baru bayar semester lalu.

“Sehingga kalau dipandang dari sisi pendapatan, yayasan maupun universitas ini, tidak dalam kondisi untung. Namun, kita cukup fleksibel dengan kondisi seperti itu,” paparnya.

Ia mengatakan, kebijakan ini atas dasar belas kasihan dan manusiawi. Apalagi pertimbangan secara akademik, ada mahasiswa yang sudah harus menyelesaikan studinya, karena kalau tidak akan lewat masa studi dan di DO.

“Kalau saya tidak pusing. Karena pertimbangan saya akademik itu kalau tidak bisa ya tidak bisa. Manakala sebuah sistem dibangun lalu ada intervensi atas dasar di luar kepentingan akademik, maka rusaklah sistem itu. Tetapi, kita masih banyak pertimbangan. Kita masih berpikir manusiawi. Sehingga intervensi saya dan Pak Rektor silakan, tapi dilaksanakan dengan jujur,” tukasnya.

Ia pun mengatakan, tidak mudah mencari perguruan tinggi semacam UG. Untuk itu, Ia mengajak mahasiswa peserta KKP kali ini, dapat melakukan sosialisasi di masyarakat tentang keberadaan UG dan kebijkan yang memudahkan mahasiswa.

“Tolong bantu Pak Rektor tahun ini melalui anda kegiatan KKP, tolong promosikan bahwa di UG masih ada kebijakan-kebijakan seperti ini,” imbaunya. (RG-56)

Bagikan berita

Tinggalkan Komentar

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

mUNGKIN ANDA LEWATKAN