Petugas Qurban Dilarang Merokok, Simak Efeknya…

ilustrasi (Anwart/RG)

RadarGorontalo.com – Pemerintah Provinsi Gorontalo lewat Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Gorontalo mengingatkan kembali bahwa para petugas pemotong daging qurban tidak boleh merokok. Artinya, sementara melakukan aktifitas pembangian/pemotongan daging tidak dibenarkan merokok. Karena pasti daging akan terkontaminasi nikotin lewat asap bahkan abu rokok, sehingga daging tersebut tidak memenuhi standar kesehatan sebagaimana Peraturan Menteri Nomor 14 tahun 2014 tentang kesehatan hewan potong. Tak hanya itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Mulyadi D’Mario lewat Bidang Kesehatan Hewan, juga menghimbau kepada seluruh petugas qurban tidak menggunakan tas kresek hitam untuk membungkus daging qurban. “Sudah kebiasaan selama ini, petugas sementara mengiris daging qurban sambil merokok. Juga penggunaan tas kresek hitam untuk membagi-bagikan daging. Ini tidak boleh lagi,” tegas Kadis Mulyadi D’Mario lewat Kabid Keswan, kemarin.

Menurutnya, himbauan sesuai peraturan menteri ini sudah mereka sosialisasikan kepada seluruh perwakilan petugas pemotong hewan qurban di Kabupaten/Kota, pada 15 Agustus 2017 lalu. Disosialisasi tersebut, menghadirkan pembicara dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan dokter hewan yang ada di rumah potong Kabupaten Pohuwato. “Semua telah dijelaskan kepada para petugas. Walaupun demikian, kami tetap melakukan pemantauan bersama Dinas terkait di Kabupaten/Kota, dengan cara menerjunkan tim ke lapangan,” ungkap Kadis. Ditanya jelang hari raya qurban ini pihaknya menemukan hewan yang tidak layak atau tidak sehat, Kadis mengatakan aman. “Alhamdulillah belum ada, dari pemeriksaan kami di lapangan semua hewan qurban sehat-sehat,” jelasnya.

Nur Fauzi Akhmad, lewat tulisannya: Qurban Secara Syari’at dan Standar Kesehatan Hewan, menjelaskan, dasar hukum qurban secara etimologis berasal dari kata Qaruba (dekat). Kata qurban (secara syari’at Islam) sepadan dengan kata al-udhiyyat. Al-udhiyyat ini didefinisikan oleh as-Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqh al-Sunnah adalah sebutan bagi hewan ternak yang disembelih pada hari Idul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri (taqorrub) kepada Allah Ta’ala. Perintah berqurban ini disyariatkan oleh Allah SWT pada tahun 2 Hijriyyah, bersamaan dengan perintah shalat Idul Adha dan zakat. Yang menjadi dasar hukum berqurban sebelum ijmak ulama ialah firman Allah SWT: ”Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah” (al-Kautsar: 2). Perintah ini diperkuat oleh hadis Nabi SAW riwayat at-tirmidzi yang artinya: “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban).Adapun mengenai hukum menyembelih qurban bagi umat Islam, ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Jumhur (mayoritas) ulama menyatakan hukumnya sunnah muakkadah (perbuatan yang sangat dianjurkan untuk dilakukan) dan sebagian ulama termasuk Imam Hanafi yang berpendapat wajib bagi yang mampu dan lapang.

Hewan Qurban: Dalam al-Qur’an surat al-hajj:34 disebutkan “Dan bagi setiap umat Kami berikan tuntunan berqurban agar kalian mengingat nama Allah atas rezki yang dilimpahkan kepada kalian berupa hewan-hewan ternak (bahiimatul an’aam).”Jadi hewan yang dapat dipergunakan untuk melaksanakan ibadah qurban yaitu jenis hewan ternak seperti: unta, sapi, kerbau, kambing dan domba. Di antara persyaratan hewan qurban yang menyebabkan sah tidaknya berqurban adalah umur hewan. Umur minimal hewan yang memenuhi syarat, untuk unta 5 tahun, sapi/kerbau 2 tahun, kambing 1 tahun (ditandai dengan tumbuhnya sepasang gigi seri tetap), domba (ada yang berpendapat 6 bulan). Hal ini dipertegas oleh hadis Nabi riwayat Jabir, “Janganlah kalian menyembelih (qurban) kecuali musinnah. Kecuali apabila itu menyulitkan bagi kalian maka kalian boleh menyembelih domba jadza’ah.” (Muttafaq ‘alaih). Selain itu hewan qurban harus bebas dari cacat sebagaimana digariskan Rasulullah SAW : empat jenis tidak sah dijadikan hewan qurban : yang jelas kebutaannya, sakit parah, pincang yg parah, dan kurus sekali (HR. at-Tirmidzi).

Ciri-ciri Hewan Sehat: Sebelum membeli hewan qurban sebaiknya kita mengecek kondisi kesehatannya. Seorang dokter hewan atau paramedis hewan dalam hal ini tentu saja bisa dilibatkan dalam penentuan kriteria sehat dari seekor hewan. Namun secara awam bisa dilihat ciri-ciri hewan yang sehat antara lain: mata jernih, terang, tidak keruh, tidak pucat, tidak berlendir dan tidak juling.Badan tegak dan berdiri kokoh.Bulu halus, mengkilat dan tidak mudah rontok bila dicabut. Kulit bersih tidak ada keropeng. Pangkal ekor bersih, tidak ada sisa kotoran. Jalan normal/tidak pincang. Dan nafsu makan/minum baik.

Teknik Penyembelihan Hewan Qurban: Biasanyayang terjadi di masyarakat proses merobohkan sapi dilakukan dengan tidak hati-hati yang dapatmenimbulkan stres dan takut. Padahal jika hewan stres, pengeluaran darah tidak akan sempurna, dan akan dijumpai henmoglobin (Hb) dalam daging. Hb merupakan media yang paling disukai mikroba, sehingga pengeluaran darah yang tidak sempurna akan mempercepat pembusukan pada daging. Mengenai teknik merobohkan sapi yang benar bisa lihat gambar. Penyembelihan: Penyembelihan dilakukan di atas lubang penampungan darah. Menyembelih dengan tangannya sendiri (lebih utama). Dilakukan oleh orang yang terbiasa/terlatih. Yang menyembelih disyaratkan baligh dan berakal, laki-laki perempuan sama saja. Minimal menyaksikan penyembelihan bagi orang yang mewakilkan penyembelihan kepada orang lain seraya berdoa : Inna sholaatii wanusuki wamahyaaya wamamaatii lillahi robbil ‘alamiin, laa syarikalahu wabidzaalika umirtu wa ana minal muslimiin.

Hewan yang sudah siap disembelih dirobohkan pada bagian kiri dengan posisi kepala menghadap kiblat. Disunnahkan ketika menyembelih ada 5 hal (lihat: al-Bujairomi ‘alal Khotib jld 5 cet. Dar al-kotob al-ilmiyah hal 248-249): Baca basmalah (Madzhab Syafi’i, madzhab lain menyatakan wajib), baca sholawat atas Nabi, menghadap kiblat, baca Takbir, dan berdo’a.

Hewan disembelih di lehernya dengan sekali gerakan tanpa mengangkat pisau dari leher, memutuskan tiga saluran, yaitu saluran pernafasan (hulkum), saluran makanan (mari’) dan dua urat nadi (wadajain). Ikat kerongkongan(esofagus) secepatnya setelah menyembelih agar isi rumen tidak mengotori daging. Proses selanjutnya dilakukan setelah hewan benar-benar mati .Kambing/domba digantung untuk penirisan dan pengulitan. Pengulitan sapi/kerbau dengan tataan kayu. Kemudian isi perut dan isi dada (jeroan)dikeluarkan.

Problema Daging dan Kulit: Sering menjadi perdebatan di masyarakat seputar penjualan daging dan kulit qurban boleh dijual atau tidak?. Para ulama sepakat bahwa daging qurban boleh dijual oleh fakir miskin yang menerima daging tersebut. Sebaliknya kulit dan daging qurban tidak boleh dijual atau untuk pembayaran tukang jagal ( pendapat mayoritas ulama), walaupun menurut Abu Hanifah kulit boleh dijual namun hasilnya tetap disedekahkan kepada fakir miskin untuk memenuhi kebutuhannya. Para ulama juga berbeda pendapat dalam hal memberikan qurban kepada non Muslim. Hal yang perlu dipertimbangkan ialah dari aspek kemaslahatan dan kemanfaatan bersama, dan tiap wilayah situasi dan kondisi berbeda. Perlu kearifan lokal untuk menyikapi hal ini. Selamat berqurban. (###)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.