RadarGorontalo.com – Makin hangatnya situasi politik Pilgub Gorontalo, mulai berdampak ke petani. Saat ini, bantuan pupuk maupun bibit, belum tersalurkan ke petani. Konon, belum disalurkannya itu karena pemerintah terlalu berhati-hati, takut dikait-kaitkan dengan politik. Padahal, di lapangan petani sudah sangat butuh. Ironisnya, antara dua persoalan itu sepertinya belum ada solusi.

Anton, petani di desa Potanga, Kecamatan Boliyohuto mengeluhkan pupuk. Akibatnya, umur padi yang seharusnya sudah di pupuk, kata Anton, hanya dibiarkan begitu saja. Dia memprediksi akibat tanaman padinya tidak dipupuk ini akan berpengaruh pada hasil produksi gabah nanti. “So talewat pak umur padi. Pengaruh nanti di hasil gabah ini, pasti cuma sadiki dipanen nanti karena tidak di pupuk,” keluh Anton.

Ditempat terpisah, Direktur GEW Riyanto Ismail, mengkritik pemerintah Provinsi. Dia mengatakan, ASN netral di Pilkada 2017 ini memang wajib, tapi tolong jangan sampai menghambat program dan bantuan pemerintah yang seharusnya diterima masyarakat. “Kami banyak mendapat keluhan dari masyarakat, jangankan mengakses program, bahkan berkomunikasi dengan ASN pun kini sulit. Karena ASN ketakutan mendapat teguran dan sanksi dari atasan. Sebab mereka takut dinilai, kalau menjalankan program yang sudah terencana, dianggap mendukung pasangan tertentu. Proteksi berlebihan seperti ini menghambat program pemerintah,” kata Riyanto Ismail.

Benar, banyak masyarakat yang berprofesi petani sampai saat ini menurut Riyanto, belum menerima bibit dan pupuk. Padahal jadwalnya, pada Desember ini seharusnya sudah mereka terima. Namun netah alasan apa, penyaluran menjadi terhambat. “Banyak yang teriak-teriak di daerah soal pupuk yang belum datang. Ini apa maksudnya, harus dibedakan mana program yang sudah berjalan dan menjadi kebutuhan masyarakat. Dengan bantuan yang baru direncanakan dan dijalankan. prioritaskan kepentingan rakyat,” tukasnya.

Tugas Pemprov dalam melayani kebutuhan masyarakat, harusnya terus berjalan dan tidak vakum karena persoalan Pilkada. “Jangan karena alasan netralitas, lalu tugas pelayanan jadi terhenti. Rakyat bisa marah karena ini,” tuturnya. Jangan sampai karena langkah protektif ini, diisukan menjadi skenario dari pihak tertentu untuk menjatuhkan pihak lain. “Banyak informasi yang masuk ke GEW, bahwa ada misi pemenangan salah satu pasangan tertentu. Kami, sejauh ini kita masih berusaha percaya terhadap netralitas dan integritas, tapi kita masih melalukukan pemantauan dan sedang kita dalami,” pungkasnya. (rg-50)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.