RGOL.ID GORONTALO – Banyak yang tidak tahu dari mana si Rajawali ini mulai mengepakan sayapnya di atmosfer politik Gorontalo. Rajawali muda ini terbang jauh meninggalkan habibatnya, dia berburu nasib di rantau orang,mulai dari Makassar lalu ke Jakarta, terlibat demo demopada peristiwa 1987.

Sambil kuliah dia juga ikut bekerja sebagai kuli bangunan, karena dia tinggal di rumah seorang kepala bas sekaligus guru ngajinya.

Singkat cerita dia kembali ke Gorontalo tanpa menyandang gelar akademik. Tetapi pengalamannya sebagai aktivis di rantau orang membuatnya langsung jadi bintang di STIE Gorontalo.

Dia adalah Rustam Akilie. Tokoh yang satu ini sebenarnya tidak bercita cita jadi politisi, juga tidak mau jadi seorang akademisi, dia hanya ingin menjadi orang bermanfaat untuk orang lain.

Tetapi dia sudah terjebak di dua dunia itu. Sebagai politisi, dia sudah pernah menjadi Ketua DPRD Provinsi Gorontalo, sebagai Akademisi dia sudah meraih gelar Profesor, dan kemarin dia sudah dikukuhkan sebagai Guru Besar.

Prof. DR. Rustam Akili, SE, SH MH, memang seorang politisi yang punya nama besar, dia seorang pemikir, dengan gaya komunikasi yang enak, kadang dipermanis dengan bahasa bahasa satire, dan dia juga berani mengatakan yang benar kepada siapapun.

Jadi jangan heran kalau Rustam selalu punya tempat istimewa. Lihat saja bagaimana seorang mahasiswa yang kemudian bisa menjadi Pembina di Yayasan UG. Bukankah ini langka dan luar biasa.

Hebatnya lagi, meski Prof Rustam adalah Pembina yang artinya pemilik dari UG, tetapi tidak bagi KK Rustam, dia satu satunya di Indonesia seorang Pembina tetapi bukan pemilik, diamana mana Pembina itu adalah pemilik.

“UG ini milik rakyat, ada dua nama yang paling berjasa, mereka adalah Bupati Marten Liputo dan Bupati Achmad Pakaya, mereka adalah orang yang paling gila gilaan mendirikan Universitas di Kabupaten Gorontalo. Merten Liputo mendirikan STIE, dan Achmad Pakaya merubahnya menjadi UG, ” ungkapnya.

Rustam cerita bagaimana Achmad Pakaya hampir pukul seorang pejabat karena mempersulit pengurusan ijin UG. ” Saya akan biayai sendiri, saya tidak minta duit dari pemerintah untuk membiayai UG, ” begitu kata Achmad Pakaya ketika itu, dan Alhamdulillah tidak sampai seminggu ijin UG sudah turun.

Dari 4 Ketua Yayasan, 3 orang menjabat sebagai Bupati, mulai dari Marten Liputo. Achmad Pakaya, David Bobihoe dan hanya Rustam yang belum jadi Bupati, namun pernah menjadi Ketua Deprov. Mungkin saja Rustam akan menjadi kepala daerah yang ke 4 dari UG, atau orang kedua yang jadi Aleg DPR RI setelah Achmad Pakaya, sebab kesempatan masih terbuka.

KAU BOLEH MATI.

“Kau boleh mati, tetapi UG tidak boleh pernah mati,” pesan Achmad Pakaya inilah yang terus memotivasi Rustam Akili untuk membangun UG, disamping itu dia juga ingat pesan David Bobihoe bahwa apa yang kau katakan harus kau buktikan, dan UG harus mandiri jangan meminta minta. Tetapi kata Rustam, Bupati Gorontalo itu memberinya hibah untuk UG

Berkali kali UG jatuh bangun, tetapi bukan Rustam kalau mau angkat tangan, dia tidak punya kata menyerah. Dia Benar benar mengobarkan semangat Rajawali, berani dan cepat bertindak.

Ditangan Rustam Akili, UG akhirnya tumbuh kokoh, dengan memiliki tenaga pengajar bergelar Doktor terbanyak di semua PTS, dan Rustam sendiri tercatat sebagai Prof pertama di L2DIKTi Sulut, Sulteng Gorontalo.

Mengapa UG bisa memiliki banyak dosen dengan gelar Doktor, itu karena dia memaksa dengan berbagai cara agar adik adiknya itu mau kuliah lagi dan Alhamdulillah samuanya berhasil, setelah para dosen selesai mengambil S2 barulah Rustam mengambil S3.

Ini catatan penting, sebelum jadi Pembina di Yayasan DLP Rustam Akili adalah mahasiswa angkatan pertama di STIE dia selesai pada tahun 90, namun pada 89 dia sudah jadi Asisten Dosen, lalu jadi Dosen tetap di UG sampai sekarang, sebelum jadi Pembina dia pernah menjadi Ketua Yayasan.

KENAKALAN RUSTAM.

Rustam memang sangat mencintai UG. Karena dia besar dari situ, mulai dari mahasiswa, jadi dosen, jadi Ketua Yayayan sampai kemudian menjadi pembina Yayasan, bahkan mulai dari S1 sampai Profesor semuanya di UG.

Makanya dia dengan tulus memberikan seluruh perhatiannya untuk UG. Memang perjalanan Rustam memimpin UG tidak mudah banyak guncangan politik yang dihadapinya, namun sekali lagi bukan Rustam kalau bisa ditumbangkan, apalagi secara politik.

Dengan kenakalan kenakalan gagasan dan idea idea yang dia mainkan, UG akhirnya bisa membangun.

Tidak bisa bayar gaji, tetapi bangun gedung UGCC, tentu saja muncul protes keras dari para dosen dan pegawai. Rustam memang tidak memberitahukan sumber dana pembangunan gedung tersebut yang jumlahnya 2 M lebih. Belum lagi gedung itu selesai, Rustam sudah bikin acara pengresmian dan hebatnya lagi dia mengundang JK untuk meresmikannya, kontan saja protes keras kembali dilayangkan, tetapi itulah kenakalan Rustam, karena melihat gedung belum selesai, maka JK bantu 500 juta

Lalu bagaimana dengan gaji? Ruatam secara sembunyi menggadaikan mobilnya di Marisa supaya tidak diketahui dari gadai mobol itulah dia membayar gaji para dosen.

Setelah sukses membangun UGCC, Rustam kembali membangun Masjid, dia kemudian minta bantuan Om Deka dan Djanal Mappe. Kemudian membangun gedung Lap, Lapangan Futsal dan Perpustakaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.