oleh

Puncak Botu Bisa Amblas

Foto : Google
Foto : Google

GORONTALO (RadarGorontalo.com) – Ir. Delyuzar Ilahude, punya pendapat yang hampir sama dengan hasil penelitian yang dilakukan mahasiswa UNG, terutama tentang keberadaan jalur Sesar yang berada di kawasan perkantoran Gubernur Gorontalo. Ir. Delyuzar yang memiliki kepakaran di bidang teknik geologi ini, ternyata sudah lama melakukan studi di kawasan puncak Botu itu.

“Sesar utamanya, memanjang dan membentang dari muara sungai Bone hingga ke arah barat laut, tepatnya Gorontalo Utara, Kwandang. Dan jalur Sesar yang ada di Botu, adalah Sesar Minor, yang terjadi akibat gerakan Sesar Utama. Karena sudah mengalami Sesar, maka gempa di Laut Maluku atau bagian selatan dan tenggara pelabuhan Gorontalo, itu akan sangat terasa di Botu. Gempa akan mengakibatkan jalur Sesar ini bergerak,” ungkap Ir. Delyuzar yang ditemui awak koran ini tadi malam. Indikator jalur Sesar itu bergerak, menurut Delyuzar, bisa di lihat pada kondisi jalan tembus ke pelabuhan Verry dari arah kantor Gubernur. “Pada beberapa bagian jalan itu, sudah mengalami longsor. Itu tandanya bahwa tanah terus bergerak. Namanya rayapan antara. Dan ini terjadi karena batuannya tidak kompak lagi,” jelas Delyuzar.

Jebolan ITB ini juga mengungkapkan, hal terburuk yang bisa terjadi di puncak Botu, adalah tanah amblas. Tanah akan amblas tergantung pada frekuensi gempa. “Selain gempa, hal lain yang juga bisa memicu tanah amblas di Botu, adalah curah hujan. Karena struktur bebatuan yang tidak kompak, jelas jelas memberi ruang dan rongga bagi terciptanya bidang luncuran. Makanya, di kawasan tersebut, tidak akan ditemukan air tanah. Nah, ini juga yang bisa menyebabkan tanah longsor dan tanah amblas. Jadi, kalau ditanya berapa lama gedung kantor Gubernur itu akan bertahan, itu semua tergantung pada frekuensi gempa dan faktor lain yang menyebabkan tanah bergerak atau tanah akan amblas,” kata Delyuzar.

BACA JUGA : Kantor Gubernur Pindah

Ir. Delyuzar menyebutkan, gedung Pengadilan Tinggi Negeri, termasuk gedung yang telah diprediksikan tidak akan bertahan lama. “Saya sudah memprediksikan gedung Pengadilan Tinggi akan amblas pada saat bangunan itu baru mulai dibangun. Itu karena fondasinya berada di tanah yang urugan, tanah yang tidak stabil dan tanah tidak kompak,” tuturnya.

Tentang seberapa besar kemungkinan gedung-gedung yang ada di kawasan Botu itu akan bertahan lama, kata Delyuzar, juga tergantung pada konstruksinya. “Kalau saja kantor Gubernur dan beberapa gedung lainnya dibangun dengan konsep rekayasa teknik sipil, seperti konsepnya Danny Pomanto, maka gedung-gedung itu, termasuk gedung kantor Gubernur, akan bertahan lebih lama. Saya sempat menanyakan soal Botu kepada Danny Pomanto. Dan beliau mengatakan bahwa gedung itu dikerjakan dengan tidak mengikuti konsepnya,” kata Delyuzar.

Tidak akan ada masalah kalau gedung yang dibangun di Botu itu menggunakan konsep rekayasa teknik sipil. Tapi dengan catatan, konstruksi bangunannya juga harus memperhitungkan ketahanannya terhadap gempa. “Ada konstruksi khusus yang bisa membuat bangunan tahan gempa,” tandas Delyuzar.

Sebelumnya, Delyuzar sempat menjelaskan bahwa daratan Gorontalo adalah daratan yang dulunya adalah gunung api bawah laut. Dan jejaknya bisa dilihat dari keberadaan fosil kerang yang banyak ditemukan di wilayah Botu dan sekitarnya. “Karena proses alam yang terjadi kira-kira pada 15 juta tahun yang lalu, gunung api ini kemudian terangkat. Makanya di wilayah sekitar Botu, banyak ditemukan fosil kerang dan fosil karang,” ungkap putra Gorontalo yang kini mengabdi di Litbang Kementerian ESDM RI. Tak hanya itu saja, Delyuzar yang menyelesaikan studi magister geologinya di Universitas Padjajaran kerap melakukan pembimbingan terhadap mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, termasuk ITB, Unpad, Undip dan beberapa perguruan tinggi lainnya.(rg-40)


Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Komentar