oleh

Rustam Sebut Proyek Siluman Rp 2 Miliar Libatkan Oknum Bank Sulutgo

-Ekonomi, Gorontalo-182 Pengunjung
Dr Rustam Akili SH MH

RGOL.com – Proyek siluman tahun 2017 di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabgor yang berbanderol Rp 2 Miliar diduga melibatkan oknum Bank Sulutgo mendapatkan tanggapan dari mantan Komisaris Bank Sulutgo, Rustam Akili.

Menurutnya ada beberapa oknum dari pihak Bank Sulutgo ikut terlibat dalam lingkaran ini, bahkan bisa dikatakan lalai dan tidak hati-hati dalam mencairkan anggaran yang cukup besar itu.

“Bisa-bisanya itu dicairkan, yang ternyata proyeknya tidak ada,” ungkapnya. Apalagi kata Rustam, dengan sistem online saat ini, tentu proyek itu bisa dikroscek langsung lewat aplikasi system yang ada.

Seharusnya Bank Sulutgo Cabang Limboto mengecek langsung ke dinas terkait proyek itu ada atau tidak.

“Bisa kan disuruh staf atau siapa saja untuk mengecek langsung ke dinas untuk kemudian dilaporkan ke Bank Sulut Pusat di Manado,” tambahnya.

Apalagi jumlahnya cukup banyak sebesar Rp 2 Milyar. Pertanyaannya, kenapa oknum di Bank Sulutgo tidak jeli mengecek itu.

Memang kata Rustam, pengalamannya sewaktu duduk di jajaran komisaris Bank Sulutgo lalu, pencairan ini tergolong sedikit untuk diketahui jajaran komisaris.

“Dewan komisaris itu membahas jumlah Rp 5 Miliar ke atas, makanya ini hanya pada tataran dewan direksi,” tambahnya. Intinya ini kejahatan yang harus diusut.

Apalagi orang-orang yang disebut saat hearing DPR ternyata bukan orang yang sebenarnya saat kontraktor mengecek ke kantor BPBD.

“Yang katanya, kantornya pun palsu, ditaruh meja, komputer dan ada pegawainya, ternyata semua palsu,” tegas Rustam. Sehingganya ini harus diusut tuntas.

“Ini betul-betul sebuah tindakan kejahatan,” tutur Rustam.

Sebelumnya proyek ini terungkap ke publik, karena pihak kontraktor mulai menagih janji pembayaran di kantor BPBD tahun 2017 senilai lebih dari Rp 2 Miliar yang belakangan terungkap proyek itu tidak ada.

Hingga pihak kontraktor menyurat ke DPR Kabgor meminta ini dicarikan solusi, padahal pekerjaan proyek pembangunan pengendali banjir sungai Tangkobu Cs, Kecamatan Bilato hampir rampung 55 persen pekerjaan.

Akibatnya proyek itu terhenti, karena belakangan pihak kontraktor mengetahui bahwa proyek itu fiktif atau tidak ada. (Qen)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.