Senggol Aman-Aman Saja, Marten : Kalau Ada Pelanggaran, Lapor ke Saya

Walikota Gorontalo Marten A Taha, ketika meninjau langsung pasar senggol.

RadarGorontalo.com – Empat kali penyelenggaraan pasar rakyat ramadhan, di era kepemimpinan Marten A Taha dan Budi Doku (MaDu), berlangsung aman. Bahkan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelum kepemimpinan MaDu, senggol tahun ini lebih nyaman. Persoalan klasik mengenai harga lapak dan tarif parkir sempat beredar di media sosial, menurut Walikota Gorontalo Marten A Taha, adalah masalah yang dibuat-buat. Sehingga dirnya menegaskan, jika ada yang melakukan pelanggaran, segera lapor ke pihak yang berwajib yang ada di enam pos pengamanan. “Kalau perlu laporkan ke saya orangnya,” tegas Marten, ketika menyampaikan sambutan pada acara pembukaan pasar senggol Senin (19/06).

Pada dasarnya, menyelenggarakan aktivitas ditengah jalan umum atau protokol, kata Marten itu melanggar undang-undang. Bahkan tidak diperbolekan. Namun mengingat pasar senggol ini bukan hanya menjadi rutinitas dan tradisi setiap di Bulan Ramadhan oleh masyarakat, khsusnya pelaku UMKM. Maka diperbolehkan dengan dasar Peraturan Walikota (Perwako), yang dibuat secara khusus dengan melihat kebutuhan masyarakat di Bulan Ramadhan dan Idul Fitri, atau hajat hidup orang banyak. “Pembukaan pasar rakyat Ramadhan atau dikenal dengan pasar senggol. Ini adalah suatu kegiatan UMKM yang sudah sekian lama, dikala itu masih di sepuratan Murni. Dan ini adalah setahun sekali masyarakat untuk mencari kebutuhan pada saat Idul Fitri dan berbagai keperluan lainnya. Selama Pemerintahan kami sudah empat kali menyelengara kegiatan ini, dan ini selalu ada masalah yang dibuat-buat. Setelah saya cek dilapangan. Kalau memang ada pelanggaran, laporkan ke saya langsung,” terangnya.

Misalnya soal lapak yang sebelumnya aman-amannya pada waktu pengukuran dan transaksi antara pengelola dengan pedagang. Ketika lapak itu sudah digunakan pedagang, dikatakan ada masalah. Ini kan aneh ceritanya. Demikian pula dengan tarif parkir di sekitaran pasar senggol, yang dikatakan tarifnya sudah tidak wajar. Dan jika memang ada oknum tukang parkir yang melanggar, harusnya dibawa ke pos pengamanan. “Kalau memang ada, lapor ke ketua satgas saber pungli, pemerintah itu mengatur dengan aturan. Bahwa kalau ada pelanggaran, tunjukan pada saya. Kalau ada yang jual lapak 6 juta, dan siapa juga yang mau ambil lapak dengan harga tiga kali lipat. Berapa keuntungannya selama 15 hari. kalau mereka membeli lapak sebanyak 10 lapak, wajar mereka membayar Rp 6 Juta, karena satu lapak Rp 600.000,” tutur Marten.(rg-62)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.