oleh

Serahkan Alat Dapur, Kasur, Beras, dan Makanan, Bule Jerman Bantu Korban Banjir di Kabgor

-Ekonomi-541 Pengunjung

Sosok warga asing berkulit putih keluar masuk kampung yang diterjang banjir di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Ia bersama beberapa orang membawa peralatan dapur, mulai dari panci, wajan, kompor gas, kasur, beras dan makanan, dibagi-bagikan ke warga yang rumahnya
porak poranda diterjang banjir di Kecamatan Tibawa.

Laporan : Sahril Rasid, S Sos

BELAKANGAN diketahui bule tersebut adalah Thomas Elst. Warga negara Jerman,beristrikan Nou Gorontalo Sukmawaty Labadjo, warga Kelurahan Limboto Kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo, yang sehari hari sebagai PNS, di Dinas Kominfo Pemerintah Daerah Kabupaten Gorontalo.

Minggu (14/11) sore kemarin harian Rakyat Gorontalo, bertandang ke kediamannya di Kelurahan Limboto. Thomas Elst yang didampingi istrinya Sukmawati Labadjo banyak bercerita soal awal mula mereka bertemu, sampai prosesi pernikahannya yang unik.

“kami menikah tergolong unik, ini disebabkan covid-19, suami saya Thomas Elst tidak bisa ke Indonesia, karena saat itu di Jerman lagi lockdown, demikian juga di Indonesia, tidak bisa berpergian,” ujar Sukmawati.

Tapi ‘sekejamnya’ wabah covid-19 tak bisa menghentikan menyatuhnya dua insan yang lagi jatuh cinta.

Buktinya sekalipun Thomas Elst ada di Jerman, dan Sukmawati di Gorontalo, prosesi pernikahan bisa dilakukan melalui pernikahan virtual (online).

“alhamdulilah dibantu beberapa tokoh agama baik di Gorontalo dan Jerman, prosesi pernikahan itu bisa berjalan,” ujar Sukmawaty. Prosesi pernikahan itu ternyata baru awal.

Karena setelah Sukmawaty sudah istri sah dari Thomas Elst, beberapa waktu kemudian berangkat ke Turky.

“di Turky kami melakukan prosesi pernikahan lagi secara menyeluruh, tapi sayangnya karena visa terbatas, saya tidak bisa lama di Turky, dan harus kembali ke Indonesia, sedangkan suami tidak bisa karena beberapa kendala,” kata Sukma.

Nanti setelah Oktober, penerbangan eropa ke Indonesia sedikit longgar. Itupun dengan alasan yang tepat, yakni membawa bantuan ke Indonesia. Setelah melalui berbagai kendala. Akhir Oktober Thomas Elst bisa ke Indonesia.

“saya menjemputnya di Jakarta, dan ke Gorontalo, melakukan resepsi pernikahan,” jelas Sukmawaty dengan mata berkaca kaca.

BANTU PENGENDARA BENTOR.
Di Gorontalo, Thomas Elst sepertinya tidak terlalu sulit menyesuaikan, sekalipun ia tidak bisa berbahasa Indonesia, hanya bisa Inggris dan Jerman, itu bukan penghalang dalam berkomunikasi dengan keluarga istrinya.

Ternyata Thomas Elst banyak berkeliling asia, bahkan hingga afrika. Di Eropa Thomas Elst banyak berkiprah di dunia seni, seperti music,budaya dan pariwisata. Tak heran, ia banyak kenal musisi musisi eropa bahkan bekerja sama.

Thomas Elst juga banyak berkecimpung dibidang social, khusus di afrika. Tak heran, ia mempunyai relasi yang cukup luas.

Terkait dengan bantuan yang disalurkan untuk korban banjir di Gorontalo. Diakui oleh Thomas Elst yang diterjemahkan oleh istrinya Sukmawaty. Itu berawal ketika ia menceritakan terkait kondisi para pengendara bentor yang dimasa pendemi covid pendapatannya jauh menurun.

“ide itu berawal saya cerita soal dampak pendemi khususnya para pengendara bentor yang sering mangkal di depan rumah. Saat itu Thomas respek dan niat membantu, ada uang sedikitia ingin berbagi,” ujar Sukma.

Tapi bersamaan ada musibah banjir di Tibawa. Awalnya kami hanya berkunjung melihat kondisi, dan ternyata banjir di Tibawa itu banyak rusak parah, rata rata dapur mereka rusak parah, bahkan alat dapurpun habis disapu banjir.

“saat itu terbersit ide bantuan itu disalurkan kepada korban banjir, untuk membeli alat dapur, seperti, beras, panci, wajan, kompor gas, hingga tabung gas, karena mereka tidak bisa memasak, percuma jika diberikan beras tapi tidak bisa masak,” kata istri Thomas Elst itu.

Semula memang Thomas Elst keberatan. Karena niat awal bantuan itu untuk pengendara bentor. “awalnya ia (Thomas) keberatan, tapi setelah dijelaskan kalau warga yang tertimpah musibah banjir itu juga banyak keluarga yang suaminya pengendara bentor, barulah ia setuju,” ujar Sukmawaty sambil tersenyum senyum.

Dari situlah bantuan terus dilakukan di desa desa lain. Diakui oleh Sukmawaty, awalnya bantuan itu dari dana pribadi, tapi ternyata banyak keluarga dan rekanan dari suaminya di Jerman itu prihatin setelah melihat video dan gambar musibah banjir yang di kirim Thomas Elst.

“mereka menghubungi Thomas dan memberikan donasi secara pribadi. Bantuan inilah yang di salurkan ke masyarakat dan pondok pesantren yang terdampak banjir, besok lagi aka nada banntuan ke Ponpes khususnyua Kasur,” kata Sukmwaty.

Diakui oleh Sukma. Donasi selain dari keluarga Thomas. Banyak rekan rekan Thomas khususnya Group music metal di eropa memberikan bantuan. Tapi group music terkenal ini tidak mau jika nama group mereka di ekspose.

Thomas banyak relasi group music metal terkenal di dunia, karena beberapa waktu lalu pernah kerjasama, mereka yang turut berdonasi, alhamdulilah ini bisa bermanfaat untuk Gorontalo. Ke depan, Thomas mengakui ingin tinggal di Gorontalo.

Dan membantu mengembangkan aktivitas Pariwisata dan persoalan lingkungan. “di eropa Gorontalo tidak dikenal, saya ingin membantu, persoalan plastik di Gorontalo juga mengkuatirkan, dimana mana, jalan, sungai, danau semua ada plastik, juga banyak hutan gunung, gundul, jadi jangan mengeluh kalau banjir, dan terkena penyakit kanker, limbah plastik itu berbahaya,” ujar Thomas.

Keseriusan Thomas itu ingin tinggal di Gorontalo, dibuktikan dipersiapkannya semua rumah untuk ia dan istrinya.

“Thomas suka di Gorontalo, masyarakat ramah dan suhu hangat, tidak seperti di eropa suhunya dibawah nol derajat jika musim salju,” kata Sukmawaty mengakhiri pembicaraan sambil pamit sebentar untuk sholat ashar. ###


Komentar