oleh

SMART City tidak boleh kaku

-Gorontalo, Kota Gorontalo1-136 Pengunjung
 FOTO B : WALIKOTA Marten Taha pada kegiatan Pagelaran Budaya di LPP-RRI Gorontalo.
WALIKOTA Marten Taha pada kegiatan Pagelaran Budaya di LPP-RRI Gorontalo.

Pagelaran Budaya

GORONTALO (RADAR) – Keberhasilan negara-negara maju tidak pernah lepas dengan adanya karakter bangsa yang kuat. Bangsa Jepang, Korea dan China, misalnya. Mereka mampu mengembangkan kemajuan dengan karakter masyarakat yang bekerja keras, disiplin, dan konsisten dalam bersikap. Begitu pula dengan Amerika Serikat, yang mengembangkan budaya trust (saling percaya) untuk menjadi adidaya.

Demikianlah kutipan penuturan Walikota Marten Taha, dalam pagelaran budaya di lingkungan kantor LPP-RRI Gorontalo. Menurutnya, karakter atau budaya itu tidak bisa kaku. Sebab sebagaimana perkembangan sebuah bangsa, karakter akan senantiasa mengalami perkembangan. “Dewasa ini agak sulit membuat batas antara karakter bangsa Indonesia dan bangsa lain. Bahkan untuk sekadar membedakan karakter antara bangsa timur dan bangsa barat, bukanlah hal yang mudah. Pengaruh globalisasi sudah memengaruhi setiap anak bangsa,” terang Marten.

Maka atas hal ini, Marten sebagai pencetus SMART City di Kota Gorontalo menjelaskan bahwa, SMART disini artinya sangat luas. Tidak hanya dalam lingkup SMART seperti di dalam pendidikan. Tetapi dalam segala sudut pandang masyarakat, termasuk kearifan lokal budaya yang tidak mungkin untuk dihilangkan. “SMART City kami sangat mendukung kearifan lokal kita. Bahkan lewat SMART City, kita bakal tumbuhkan lagi semangat masyarakat dalam membangun budaya kita yang kian hari kian terkikis oleh pengaruh global,” jelas Marten.

Oleh karena itu, Marten membutuhkan keterlibatan semua komponen bangsa dalam menyukseskan prosesnya. Seperti melalui lingkungan sosial dan sistem nilai budaya. Utamanya keluarga dan masyarakat, yang merupakan lingkungan tumbuh dan berkembangnya generasi muda. Kata Marten, keluarga merupakan significant others bagi anak-anak dan remaja. “Segala tindak tanduk orang tua akan diikuti oleh anak-anak mereka. Orang tua menjadi teladan bagi anak-anaknya. Sedangkan dalam masyarakat, karakter yang diajarkan dalam keluarga akan diselaraskan, agar sesuai dengan panduan kehidupan bersama,” katanya menjelaskan.

Di Indonesia sendiri, program seperti ini pernah dicanangkan RI 1 pertama, Bung Karno. Yakni, melalui pembangunan watak bangsa atau Nation and Character Building (NCB). Program itu dimaksudkan untuk memperkuat jati diri bangsa Indonesia. Istilah NCB dicetuskan agar bangsa Indonesia memiliki penanda ketika berdampingan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Penanda yang berupa ciri, watak, atau karakter yang membedakan dengan bangsa lain. (rg-63)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.