oleh

SQB dan Manajemen Tanpa ‘Tapi’, Penataan Kehidupan Mahasiswa Jadi ‘Titik Balik’

Pose bersama setelah penyerahan buku; Memoar Syamsu Qamar Badu  Memimpin  dengan Rumus Perubahan, usai pertemuan dengan Kabag Dan Kasubag di lingkungan UNG

RadarGorontalo.com – Banyak moment penting yang telah dilaluinya selama delapan tahun memimpin Universitas Negeri Gorontalo. Satu diantaranya adalah, menyangkut penataan kehidupan mahasiswa. Bagi Prof. Dr. Syamsu Qamar Badu, M.Pd, upaya menertibkan kehidupan mahasiswa diawal kepemimpinannya, menjadi “titik balik”.

“Bagaimana kita, yang secara bersama-sama menertibkan kehidupan mahasiswa. Yang hampir setiap hari ada demo (unjuk rasa, red), setiap semester ada tawuran. Kehidupan mahasiswa di kampus saat ini, relatif lebih baik. Dan bagi saya, ini menjadi ‘titik balik’.

Semua yang diraih UNG saat ini, kalau tanpa didukung oleh kehidupan mahasiswa yang baik, teratur, tak akan mungkin kita menggapai semua itu,” kata Rektor UNG, Prof. Syamsu di hadapan para Kabag dan Kasubag di lingkungan UNG, Rabu (17/10/2018).

Tentang bagaimana upaya SQB menata kehidupan mahasiswa di awal kepempimpinannya itu, terekam dalam buku Memoar Syamsu Qamar Badu Memimpin dengan Rumus Perubahan. Di dalam buku itu, juga memuat banyak hal menarik, termasuk filosofinya dalam memimpin. SQB menyebutkan tentang Manajemen Tanpa “Tapi”.

“Saya selalu menggunakan Manajemen Tanpa ‘Tapi’. Kalu kita fokus, pasti bisa. Dalam banyak kejadian, belum juga melakukan apa-apa, sudah banyak ‘tapinya’. Apapun posisi kita, kita bisa berkreasi. Tapi coba hilangkan kata ‘tapi’. Kata ‘tapi’ menjadi penghambat dalam upaya mewujudkan semua obsesi, semua keinginan kita,” kata SQB.

Ia juga mengungkapkan, tentang hilangkan kata “Tapi” terhadap orang lain. Menurutnya, ini juga yang menjadi faktor yang akan membendung pergaulan dan pertemanan. “’Tapi terhadap orang lain’, akan membuat kita terkungkung. Pemimpin harus mampu mengayomi. Potensi bawahan harus mampu dikembangkan dengan memberi ruang bagi mereka untuk bisa berkreasi,” katanya.

Di tengah semua pencapaian, SQB tetap mengakui tentang kehadiran “orang lain”. Semua unsur telah berperan, saling bekerjasama. Ini yang menurutnya, menjadi faktor penting dari semua pencapaian yang diraih UNG kini. “Saya bukan seorang yang sempurna. Sebagai manusia, saya punya banyak kekurangan. Pencapaian kita saat ini, diraih atas kerja keras kita bersama,” kata SQB.(rg-40)


Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Komentar