oleh

Tentang Internasionalisasi Perguruan Tinggi, Sebuah Keniscayaan yang Tak Bisa Ditolak

Pose bersama rombongan studi banding PPs STIA Bina Taruna Gorontalo dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI di Thailand, Prof. Dr. Mustari, M.Pd

RadarGorontalo.com – Internasionalisasi perguruan tinggi, merupakan respon perguruan tinggi atas “terbukanya dunia” dalam berbagai sektor, termasuk sektor. Menurut Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Thailand, Prof. Dr. Mustari, M.Pd, ini juga menjadi alasan yang rasional mengapa hampir semua perguruan tinggi menjalin dan membangun kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi luar negeri.

“Aliansi, kerjasama, kolaborasi lintas wilayah, baik yang bersifat bilateral dan multilateral, multi Benua, kawasan regional Asia-Pasifik sampai ke seluruh dunia, menunjukkan bahwa internasionalisasi perguruan tinggi di dunia, adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa lagi ditolak. Termasuk juga kita yang bergerak di sektor pendidikan, tidak bisa menolak tentang keharusan kita untuk membuka diri berinteraksi dalam berbagai pola,” ungkap Prof. Dr. Mustari, M.Pd, saat berdialog dengan rombongan studi banding PPs STIA Bina Taruna Gorontalo di KBRI di Thailand, Rabu (17/10/2018).

Sebagai respon atas visi internasionalisasi kampus yang dilakukan PPs STIA Bina Taruna Gorontalo, Prof. Mustari mengungkapkan, dengan konsep internasionalisasi yang telah disiapkan, institusi perguruan tinggi harus dapat menindaklanjuti kerjasama yang telah dirintis.

“Membutuhkan formulasi yang tepat bagi perguruan tinggi untuk dapat merealisasikan kerjasama internasional ini,” katanya. Prof. Mustari juga banyak memberikan informasi kondisi terkini mengenai perguruan tinggi dan fenomena Revolusi Four Point Zero di dunia pendidikan tinggi Thailand.

“Potret perguruan tinggi di Thailand dalam membangun internasionalisasi mereka, yang paling aktual adalah, Thailand menjadikan apa yang disebut dengan revolusi four point zero, sebagai fokus. Termasuk juga perguruan tingginya,” terang Prof. Mustari.

Menurutnya, pada revolusi tahap pertama, pembelajaran masih bersifat face to face. Pada revolusi kedua, dosen mulai memiliki media dan sumber belajar. “Pada revolusi ketiga, mulai ada kolaborasi antara dosen dan mahasiswa, dimana mahasiswa juga harus dipandang sebagai objek yang memiliki pengetahuan.

Di revolusi level empat ini, sudah ada faktor lain, yakni teknologi. Teknologi sudah digunakan untuk pembelajaran online learning, pembelajaran jarak jauh dan sebagainya,” katanya.

Hampir semua perguruan tinggi di Thailand, kata Prof. Mustari, mulai memaksimalkan pemanfaatan teknologi. “Kondisi ini sebenarnya juga tidak jauh beda dengan perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Hampir rata-rata perguruan tinggi disini, sudah memiliki website yang bisa diakses siapa saja. Demikian pula dengan jurnal ilmiah,” katanya.

Sebelumnya, Direktur PPs STIA Bina Taruna Gorontalo, Prof. Dr. Arifin Tahir, M.Si, mengungkapkan, rombongan studi banding ini berjumlah 42 orang sebagian besar adalah mahasiswa semester II dan III Prodi Magister Ilmu Administrasi. Selain dalam rangka membangun kerjasama internasional di bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat.

Dan hal substansial yang hendak didapatkan pada kegiatan studi banding tersebut, kata Prof. Arifin, adalah pengalaman akademik. “Ada beberapa hal yang akan dipelajari mahasiswa Prodi S2 Ilmu Administrasi. Bagaimana kebijakan publik, pelayanan publik dan tentang administrasi pemerintahan.

Informasi ini, setidaknya akan didapatkan mahasiswa dari kunjungan di KBRI maupun kunjungan selanjutnya yang akan dilakukan di NIDA) Bussiness School,” kata Prof. Arifin. Semua informasi dan pengalaman akademik yang didapatkan pada studi komparasi ini, kata Prof. Arifin, nantinya akan dianalisa dan dibandingkan dengan yang ada di Indonesia.

Dan pada kunjungan di NIDA Bussiness School, rombongan studi banding PPs STIA Bina Taruna Gorontalo diterima oleh Prof. Boon Aman Pinaitrup, Ed.D, Dekan Sekolah Pascasarjana Kebijakan Publik. Selain menggelar pertemuan dan dialog, rombongan studi banding juga berkesempatan menghimpun data dan mengunjungi Perpustakaan NIDA Bussiness School.(rg-40)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.