oleh

Tim Hukum Pemkot Kaji Pernyataan Adhan

RGOL.ID, GORONTALO – Pernyataan anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Adhan Dambea yang menyoroti soal bantuan sembako kepada rakyat miskin, kini tengah dikaji oleh tim hukum dari pihak perusahaan dan juga instansi terkait di lingkungan Pemkot, yakni Dinas Pangan dan Dinas Sosial.

“kami tengah meminta tim hukum Pemkot untuk mengkaji pernyataan Adhan Dambea,” kata Tommy Jahja.

Jika nanti tim hukum merekomendasi untuk mambawa kasus itu pada proses hukum, maka Tommy mengaku pihaknya akan melaporkan masalah itu ke Polisi.

Menurut Tommy lagi, memang dalam pernyataan itu, Adhan tidak menyebut nama perusahaan yang menangani pengadaan sembako, namun pihak perusahaan merasa terusik dengan tudingan itu.

Sementara itu, Adhan Dambea yang dihubungi tadi malam, tidak mau berkomentar.

“ha ha ha, mau mengkaji atau memproses hukum pernyataan saya, silahkan saja, nanti kita uji data,” ujarnya.

Adhan mengaku lebih bagus jika masalah ini diungkap, sehingga semua permasalahan di Kota Gorontalo juga akan terungkap dan terbuka ke publik.

Memang kata Adhan, patut dipertanyakan terkait dengan pengadaan bantuan sembako di Kota Gorontalo yang dipihak ketigakan pada dua perusahaan yang berbeda.

“kenapa harus dipihak ketigakan di dua perusahaan berbeda, ada apa ini? karena kalau bicara pihak ketiga, maka diduga ada pembicaraan keuntungan disitu,” tegasnya.

Apalagi kata Adhan, kualitas beras sembako yang disalurkan di Kota Gorontalo sangat memprihatinkan, karena beras itu bukan beras premium, dan masyarakat mengeluhkan kondisi berasnya ada yang rusak dan tidak bisa dikonsumsi.

Sementara kalau sesuai anjuran pemerintah, harga beras sembako itu seharusnya Harga Eceran Tertinggi (HET) dari distributor untuk menjaga kualitas dari beras.

“tapi kalau melihat beras bantuan di Kota Gorontalo, kami menduga beras itu bukan harga HET dari distributor,” paparnya.

Selain itu, Adhan juga menyayangkan adanya dugaan takaran Beras Bansos yang disalurkan pada masyarakat.

Beras yang seharusnya diterima masyarakat 10 kilogram (lebih kurang 14 liter), namun kenyataan di lapangan, ada yang hanya menerima 9 liter.

“bagi saya ini sangat tidak manusiawi, kasihan masyarakat disuguhi bantuan yang takarannya kurang dan kualitas berasnya sangat memprihatinkan,” tegas Adhan. (awal-46)

Komentar