oleh

UG Saksi Sejarah PSD H.B. Jassin

RGOL.ID, GORONTALO – Sebuah kebanggaan tersendiri bagi civitas academica Universitas Gorontalo (UG) karena menjadi inisiator acara
peresmian Pusat Studi Dokumentasi (PSD) H.B. Jassin, di Auditorium Universitas, Rabu (27/11) kemarin. “Ini sebuah peristiwa bersejarah,” kata Rektor UG, DR. Ibrahim Ahmad.

“Bangsa ini akan dilupakan jika tak punya dokumentasi yang baik,” ujarnya. Seperti diketahui, inisiator PSD H.B. Jassin adalah Basri Amin bersama sembilan akademisi dan praktisi lainnya di Gorontalo yang berlatar jurnalis, pekerja seni rupa, penggiat media dan literasi, serta sarjana pendidikan.

Pusat Studi Dokumentasi H.B. Jassin berdiri sebagai langkah lanjutan dari peringatan 102 Tahun H.B. Jassin pada Juli 2019 lalu.

Basri Amin mengaku mustahil Indonesia menjadi bangsa unggul tanpa dokumentasi kebudayaan. Indonesia hanya punya satu tokoh sentral di bidang ini, yakni H.B. Jassin.

“Beliau mengharumkan nama Indonesia dan Gorontalo di tingkat dunia. Sangat tidak pantas kalau Gorontalo diam saja. Sudah tiba waktunya Pusat Dokumentasi Kebudayaan Nasional berdiri tegak di Gorontalo, kampung halaman H.B. Jassin,” kata Basri di hadapan forum PSD.

Forum PSD yang dihadiri ratusan peserta ini akan melanjutkan agenda-agenda kolaborasinya pada Desember 2019 dan akan lebih intensif lagi di awal tahun 2020, baik di tingkat regional dan nasional.

Untuk tahun 2019 ini, peneliti utama PSD, Samsi Pomalingo, berhasil mengumpulkan dan menganalisis artefak sejarah yang ditinggalkan (alm) Prof. Ibrahim Polontalo, seorang sejarawan Gorontlo terkenal yang puluhan
tahun mendokumentasikan manuskrip dan naskah-naskah sejarah Islam Gorontalo.

Acara ini dihadiri oleh Ketua Yayasan Pendidikan Duluwo Limo Lopohalaa Gorontalo, Rektor Universitas Muhammadiyah (UMGo), Rektor Universitas Gorontalo (UG), Rektor IAIN Sultan Amai, akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) serta sesepuh provinsi Gorontalo, Prof. Nani Tuloli, Kepala Kantor Bahasa Gorontalo dan Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi, Dr. Josep Koton, tokoh KKIG, dan beberapa tokoh pendidikan lainnya, serta keluarga besar H.B. Jassin di Gorontalo. (tut/tr-10)

Komentar