oleh

Universitas Bina Taruna Contoh Pengelolaan Kampus Swasta Di Gorontalo

-Pendidikan-561 Pengunjung

RGOL.ID, GORONTALO Ramadhan tahun ini menjadi momentum yang tidak akan terlupakan bagi civitas akademika Universitas Bina Taruna (UNBITA) Gorontalo.

Diawal April, tepatnya 5 April 2021, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Nomor 101/E/0/2021 tentang penggabungan dan perubahan bentuk STIA dan STITEK Gorontalo menjadi Universitas Bina Taruna (UNBITA) Gorontalo. Adapun seremoni launching berdirinya UNBITA, dilaksanakan tanggal 12 April 2021, oleh Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) XVI Gosuluteng, Prof. Dr. Ir. Mahludin Baruwadi, MP, di kampus Unbita Gorontalo.

Puncaknya, 24 April kemarin, Dr. Hj. Ellys Rachman, S.Sos, M.Si, resmi dilantik menjadi Rektor Universitas Bina Taruna untuk periode 2021-2025. Lahirnya UNBITA Gorontalo hingga memiliki pejabat struktural Rektor dan pembantu Rektor bagaikan muara sejarah panjang perjalanan Yayasan Bina Taruna Gorontalo yang didirikan pasangan suami istri, almarhum Ir. Awad Rachman, M.RE, dan Hj. Hasmin R. Modanggu, sejak tahun 1992 seperti yang tercantum pada Akte Notaris Julius Daniel Ismawi nomor 23 tanggal 09 Juli 1992.

Di tahun 1993, Yayasan Keluarga yang diniatkan fokus pada pelayanan pendidikan ini, melahirkan sebuah lembaga pendidikan bernama Akademi Sekretaris dan Manajemen Indonesia (ASMI) Bina Taruna Gorontalo.

Tidak puas sampai lembaga pendidikan setingkat Akademi, di tahun 1999, Yayasan Bina Taruna mendirikan Dua Sekolah Tinggi, yaitu Sekolah Tinggi Teknik (Stitek) dan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Bina Taruna Gorontalo. Yayasan ini terus berinovasi yang ditunjukkan dengan pendirian Program Pascasarjana STIA di tahun 2009. Dan puncaknya, April 2021, lahirlah UNBITA, sekaligus mengakhiri perjalanan panjang STIA dan STITEK.

Perguruan Tinggi yang dilahirkan oleh Yayasan Bina Taruna Gorontalo, tidak lepas dari sosok Dr. Ir. Azis Rachman, MM. Ia adalah generasi kedua dari almarhum Ir. Awad Rachman, M.RE yang mendirikan Yayasan Bina Taruna ASMI Bina Taruna Gorontalo. Sejatinya, Azis Rachman, bukanlah sosok yang besar di dunia pendidikan. Namun tidak dipungkiri, tangan dinginnya yang berhasil memoles Dua Sekolah Tinggi, menjadi Universitas.

Sosok Azis Rachman, adalah ASN di Lingkungan Dinas PU Provinsi Gorontalo, sebelum ‘dipaksa’ untuk meneruskan amanah orang tuanya mengembangkan kampus biru itu. Sekadar refleksi, Azis Rachman, tidak akan melupakan peristiwa di tahun 2003, ketika sedang menunaikan ibadah haji.

Saat itu, seseorang mengontaknya hanya untuk menyampaikan kabar dan ucapan selamat, bahwa namanya, sudah disetujui menjadi dosen dan ditempatkan di STITEK Bina Taruna Gorontalo, kampus yang susah payah ia dirikan dibahwa Yayasan Bina Taruna Gorontalo, rintisan ayahnya.

“saat itu, saya tidak tahu siapa yang mengurus dan mengajukan nama saya di Kopertis IX untuk menjadi dosen,” ungkap Azis. Belakangan Azis tahu, bahwa yang mengusahakan dan mengusulkan namanya menjadi dosen adalah ibunya sendiri, Hj. Hasmin R. Modanggu.

“rupanya ibu saya keberatan saya berkarir di birokrasi, padahal saya ini insinyiur,” katanya. Bila sekadar mencari materi, Azis mengungkapkan, akan lebih menjanjikan berkarir di birokrasi dalam hal ini di Dinas PU.

MENUNAIKAN AMANAH ORANG TUA
Azis menjadi total membangun STITEK dan STIA Bina Taruna dengan obsesi menjadi UNBITA, setelah ibunya menyampaikan bahwa amanah almarhum ayahnya, agar Yayasan Bina Taruna itu tetap fokus pada dunia pendidikan, dan Azis dibantu saudara-saudaranya dipilih menjadi yang terdepan dalam menjalankan amanah tersebut.

Membangun lembaga pendidikan hingga menjadi universitas pasti tidak mudah? Azis memilih memulainya dari hal kecil dan terutama selalu melibatkan doa dari orang tua, terutama ibunya.

Memulai dari hal-hal yang kecil inilah yang dianggap Azis, menjadi factor mengapa beberapa usulan universitas di Gorontalo tidak selalu mulus, karena langsung mau mendirikan universitas. Banyak sekali syarat untuk menjadi universitas, terutama universitas swasta, mulai dari lahan, gedung kuliah, mahasiswa, dosen dan lainnya.

“tapi bila dimulai dari hal-hal kecil, misalnya mulai dari akademi, sekolah tinggi, maka untuk menjadi universitas tidak terlalu sulit, dan untuk menjadi sumber calon mahasiswa, Yayasan Bina Taruna memiliki sekolah setingkat SMA, yang dari sanalah salah satunya penyumbang calon-calon mahasiwa,” ujarnya.

Bagaimana kiat untuk mencegah konflik di dalam mengelola universitas dibawah yayasan? Azis menyebut inovasi dan transparansi adalah kuncinya Inovasi yang dia maksud adalah Yayasan Bina Taruna terus melakukan penyesuaian dengan kebutuhan masyarakat tidak hanya di Gorontalo, namun juga di luar Gorontalo.

Azis mencontohkan, inovasi dan pengembangan yang dilakukannya adalah mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Bisnis Gorontalo dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Gorontalo, yang kemudian pada tahun 2019 dimerger menjadi Universitas Bina Mandiri (UBM) Gorontalo.

“namun semuanya itu harus dilakukan dengan semangat transparansi dan keterbukaan,” kata Azis. Disamping membidangi lahirnya Unbita dan UBM, Azis menjadi ketua Yayasan Bina Mandiri Gorontalo membawahi Universitas Bina Mandiri.

Sementara itu, Kepala LLDIKTI XVI Gosuluteng, Prof. Dr. Ir. Mahludin Baruwadi, MP, tak ragu menyebut Dr. Ir. Azis Rahman, MM, layak menjadi tokoh pendidikan Gorontalo masa kini. Apa yang dikatakan Mahludin tidak salah, karena Azis Rahman juga yang menjadi salah seorang pejuang sehingga LLDIKTI XVI Gosuluteng ditempatkan di Gorontalo.

“disamping itu, pengelolaan Yayasan Pendidikan bisa melahirkan Dua universitas itu tidak mudah. Bagaikan memiliki Dua kerajaan. Alamdulillah sejauh ini baik baik saja. Makanya saya sarankan juga kepada pengelola PTS apalagi baru mau mendirikan PTS untuk tidak perlu malu belajar dan nanya-nanya ke pak Azis,” tutur Mahludin.(awal-46)


Komentar