oleh

Usut Vaksin Palsu

vaksin palsu
ilustras (Anwar/RG)

Gubernur-Deprov Sepakat Bentuk Pansus

RadarGorontalo.com – Menyusul belum redanya pengentasan terkait merajalelanya virus penyakit antraks di provinsi Gorontalo, membuat jajaran DPRD Provinsi (Deprov) Gorontalo menaruh curiga, bahwa vaksin yang beredar untuk pencegahan virus antraks ini, diduga palsu belaka. Tidak hanya untuk vaksin antraks saja. Bahkan, untuk vaksin-vaksin lainnya, seperti yang lebih dikhawatirkan menyangkut vaksin polio, tetanus dan lain sebagainya, yang notabene diperuntukan atau dibutuhkan semasa bayi dan anak-anak, itu diduga turut beredar palsu di provinsi Gorontalo.

Hal ini disuarakan anggota Komisi IV Deprov Gorontalo, Rusliyanto Monoarfa, disela-sela sidang paripurna penetapan 3 dari 4 Ranperda menjadi Perda, yang digelar Deprov Gorontalo, kemarin. Dimana, menurut Rusliyanto, penyebaran vaksin-vaksin palsu, sudah menyebar dan menjadi isu nasional. Dan oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, saat ini telah diupayakan pencegahannya. “Yang bukan tidak mungkin, penyebaran vaksin-vaksin palsu ini, sudah ada di provinsi Gorontalo. Olehnya, kami memintakan kebijakan dari pak Gubernur dan instansi dinas teknis terkait, akan pencegahannya di provinsi Gorontalo,” ungkap Rusliyanto dalam interupsinya, disela-sela sidang paripurna 4 Ranperda, senin (27/06).

Menyikapi hal ini, Gubernur Rusli Habibie, dalam penjelasannya mengaku sepakat, bahwa pencegahan vaksin-vaksin yang diduga palsu dan beredar di provinsi Gorontalo ini, sudah harus diantisipasi sedini mungkin. “Saya sepakat, dan mengharapkan Deprov Gorontalo, untuk membentuk Pansus (Panitia Khusus) terkait dugaan penyebaran vaksin-vaksin palsu ini,” sahut gubernur.

Menanggapi saran gubernur tersebut, sejumlah aleg Deprov kepada RADAR mengaku setuju, bahwa memang sudah saatnya, dalam mengantisipasi peredaran vaksin-vaksin yang diduga palsu di provinsi Gorontalo ini, harus dibentuk Pansus. “Kami setuju.! Mestinya, disaat paripurna tadi (kemarin, red), masukan dari pak Gubernur dalam membentuk Pansus untuk dugaan vaksin-vaksin palsu ini, segera kita tindaklanjuti pembentukan Pansus-nya,” ungkap AW Talib, didampingi Arifin Djakani dan Rusliyanto Monoarfa.

Sementara itu, Rusliyanto menambahkan lagi, vaksin-vaksin yang diduga palsu itu, akan sangat membahayakan jiwa dan keselamatan generasi di provinsi Gorontalo. “Terlebih untuk vaksin polio palsu pada anak-anak, yang kabarnya sejak tahun 2007-2008 silam telah beredar di Indonesia. Nah, kita yang mempunyai anak-anak yang lahir diatas tahun tersebut, dikhawatirkan telah mengkomsumsi vaksin palsu tersebut. Olehnya, hal ini perlu segera ditindaklanjuti, agar jangan sampai ditemukan beredar di provinsi Gorontalo,” jelas Rusliyanto. “Selain dukungan untuk dibentuknya Pansus yang menggodok peredaran vaksin-vaksin palsu ini, kami juga dari Komisi IV Deprov sesuai tupoksi kami di bidang kesehatan, dalam waktu dekat ini, akan turun lapangan bersama Badan POM, untuk menyelidikinya di lapangan,” pungkas Rusliyanto. (rg-28)


Jangan Lewatkan

Komentar