oleh

Walikota Gorontalo Jadi Guru SMA

-Gorontalo, Kota Gorontalo1-143 Pengunjung

GORONTALO (RadarGorontalo.com) – Siswa Kelas X IPS 5 dan 6 mendapat kehormatan Selasa (10/05). Berbeda dengan hari – hari lainnya, Walikota Gorontalo Marten Taha secara khusus mengajar para siswa di SMA 3 Negeri Kota Gorontalo ditengah kesibukannya memimpin Kota Gorontalo.

Program Walikota Mengajar. Program ini untuk kesekian kalinya dilakukan oleh Marten. Kurang lebih 3 jam lamanya, Marten mengajar didua kelas yang ruangannya berdampingan ini, berbagi ilmu soal mata pelajaran ekonomi.

Kehadiran orang nomor satu di kelas tersebut, tentu disambut gembira oleh para siswa. Praktis, suasana belajar berubah. Mengenakan seragam dinas dan membawa beberapa buku pelajaran, Marten langsung memasuki kelas X IPS 5 SMA Negeri 3 Kota Gorontalo.

Disambut salam menggunakan bahasa inggris, Marten langsung membalasnya, dan berupaya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang guru. “Apa kabar adik-adikku, hari ini kita belajar mata pelajaran apa,”tanya Marten pada anak didiknya.

Ditengah melakukan adaptasi dengan siswanya, Marten juga mempertanyakan kehadiran dari siswa di Kelas X IPS 5 tersebut. Dan usai mengetahui jumlah kehadiran siswa, proses belajar mengajar di ruang kelas itu, terus berlangsung selama tiga jam. Dan usai menjalankan tugasnya sebagai guru, Marten mengatakan, dalam menjalankan profesi ini ia harus tahu cara beradaptasi dan berkomunikasi dengan baik dihadapan siswa.

“Jika saya tidak jadi Walikota, mungkin saat ini profesi saya selain sebagai pengusaha, juga merupakan sebagai guru,”ujarnya, ketika dimintai tanggapan. Dan secara rinci ia jelaskan lagi, tujuan program Walikota mengajar ini, sebagai bentuk motivasi kepada guru-guru, dengan berdasarkan pada empat kompetensi guru. Diantaranya, kompetensi padegogik, sosial, kepribadian dan intelektual. “Empat komptensi inilah yang dituntut pada guru, karena proses belajar mengajar di tingakat SMA atau sekolah sangat jauh berbeda dengan proses belajar mengajar di tingkat perguruan tinggi.

Kalau siswa, kita masih harus menyediakan bahan pelajaran yang baik. Sementara untuk mahasiswa pemahamannya sudah matang, dosen tanpa menyediakan materi kuliah atau buku panduan, mahasiswa sudah bisah memahami isi materi kuliah yang disampaikan dosen,”terangnya. (RG-62)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.